Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 September 2016

Meneladani Keluarga Nabi Ibrahim A.S

Tulisan di bawah ini merupakan ringkasan dari khotbah shalat Idul Adha KH. Abdul Hasib Hasan, Lc di Pesantren Terpadu Darul Qur'an Mulia (DQM) 1437H.

Di zaman yang saat ini sedang mengalami krisis multidimensi, ketika degradasi moral terjadi di semua kalangan. Ayah yang lupa dengan peran dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin rumah tangga, Ibu yang hanya sibuk menghabiskan uang ke pasar untuk berbelanja, dan anak remaja yang sibuk dengan permainan yang melalaikan tanggung jawabnya maka kita membutuhkan tiga sosok manusia yang mewakili semua pemeran dalam suatu keluarga, yaitu sosok Nabi Ibrahim A.S, Siti Hajar, dan Ismail A.S. 
Mengapa Nabi Ibrahim A.S?karena Nabi Ibrahim merupakan kekasih Allah yang diberi gelar sebagai pemimpin umat manusia karena ketaatan dan kesungguhannya dalam menyelesaikan perintah Allah SWT dengan sempurna.
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim AS diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim".(QS:2:124). Ada beberapa poin yang bisa kita jadikan ibroh dari sifat dan karakter dari Nabi Ibrahim A.S, diantaranya adalah:
  • Hanif
Nabi Ibrahim A.S adalah seorang hamba yang hanif, hanif disini bermakna berkomitmen untuk membela dan memperjuangkan kebenaran sehingga kita tidak akan memposisikan diri kita untuk membenarkan apalagi memperjuangkan kezaliman. hal ini dibuktikan ketika beliau memiliki keberanian di usia yang masih muda untuk menumpas segala bentuk kemusyrikan yang terjadi, dengan menghancurkan berhala-berhala yang dijadikan sesembahan meskipun beliau mengetahui resiko dan konsekuensinya, tetapi komitmen Nabi IbrahimA.S sudah jelas untuk membela dan memperjuangkan kebenaran.
  • Syukur
Bersyukur terhadap apa yang Allah berikan kepada kita akan membuat hati kita menjadi lapang, tidak ambisius sehingga kita tidak berambisi untuk menjadikan dunia sebagai orientasi hidup kita. 
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema’lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS:14:7). Sesungghunya yang membuat hidup kita terasa sempit bukan nominal gaji yang kita peroleh, tetapi rasa syukur yang tidak pernah bertambah setiap harinya atas nikmat yang telah Allah karuniakan.
  • Yakin
Di usia yang sudah tua, Nabi Ibrahim A.S tidak pernah berhenti dan putus asa untuk berdoa kepada Allah agar diberikan keturunan meskipun secara biologis sudah tidak mungkin tetapi Nabi Ibrahim A.S tetap yakin dan terus berdoa setiap harinya agar dikaruniakan keturunan yang soleh. Dan pada akhirnya Allah memberikan keturunan yang soleh kepadanya.
Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (QS:37:100-101)
Manusia itu penuh dengan keterbatasan, Allah lah yang akan memudahkan dan memberikan jalan maka berdoalah, berdoalah, dan terus berdoalah kepadaNya. 
  • Bersegera terhadap Perintah Allah
Nabi Ibrahim A.S selalu bersegera terhadap perintah Allah, yaitu ketika Nabi Ibrahim diperintahkan untuk membawa anaknya yang sangat ia cintai (Ismail A.S) menuju ke makkah bersama dengan ibunya (Siti Hajar). Kala itu makkah adalah negeri yang sangat tandus, sehingga sangat sulit untuk bertahan hidup di sana ditambah perbekalan yang dibawa hanyalah sedikit. Tetapi karena ini adalah perintah Allah, meskipun ia sangat mencintai anak dan istrinya tetapi karena ini adalah perintah Allah maka ia harus tetap menjalankannya.
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS:14:37)
ketika keluarga kecil Nabi ibrahim tiba di makkah, terjadi dialog yang sangat istimewa yang bisa dijadikan prinsip hidup bagi kaum wanita khususnya. ketika Nabi Ibrahim sudah melangkahkan kakinya meninggalkan istri dan anak yang sangat ia cintai, siti hajar bertanya kepadanya. "Apakah yang kamu lakukan ini adalah perintah Allah?". Sebagai wanita sangatlah wajar merasa keberatan jika ditinggal suaminya di tengah negeri yang tandus, tanpa adanya perbekalan yang cukup. Nabi ibrahim pun menjawab tanpa menoleh ke istrinya "ya, ini adalah perintah Allah". Disini kita akan menemukan kecerdasan dan ketaqwaan yang sangat luar biasa dari siti Hajar. "Jika demikian, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan dan menelantarkan kami". Seharusnya beginilah calon-calon ibu yang ingin melahirkan anak-anak yang solih, ia akan sangat yakin bahwa Allah akan selalu menjaga dan mencukupkan rizkinya jika ia sungguh-sungguh menjalankan perintah Allah.
Ujian untuk Ibrahim A.S pun masih belum usai, setelah ia harus meninggalkan putera dan istrinya di negeri yang tandus. Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu melalui mimpinya untuk menyembelih puteranya (Nabi Ismail A.S) yang disaat itu usia ismail masih sangat muda. 
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?’ Ia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’' (QS:37:102)
Hanya anak yang terlahir dari rahim ibu yang sangat cerdas dan solehah yang bisa menjawab seperti jawaban nabi Ismail A.S. Bagaimana bisa seorang anak remaja yang sejak kecil ditinggal oleh ayahnya di negeri yang tandus, ketika bertemu dengan ayahnya, ayahnya berkata akan menyembelihnya. Inilah pembelajaran yang sangat luar biasa, cara mendidik yang dilakukan oleh siti hajar seharusnya kita jadikan pedoman untuk mendidik putera dan puteri kita agar bisa tumbuh menjadi anak yang soleh dan solehah sehingga bisa dengan ikhlas dan patuh untuk menjalankan perintah Allah.

semoga kita bisa meneladani kisah keluarga kecil Nabi Ibrahim A.S. Semangat berqurban bukanlah semangat yang sifatnya eventual melainkan semangat yang seharusnya ada di setiap hari-hari kita. Semangat untuk mempersiapkan investasi akhirat, bukan semangat untuk menghabiskan uang di mall, di pasar, dan lain-lain. Semangat berqurban juga tidak ada batasan usia, siapa saja boleh melakukannya. Tua ataupun muda seharusnya terbiasa berqurban dengan tenaganya, rizkinya, hartanya di jalan Allah. Bukan masalah kuantitasnya, tetapi kesungguh-sungguhan untuk mengorbankannya di tengah keterbasan masing-masing.

Al-Hakim telah meriwayatkan dalam Mustadraknya (no. 2421) dari hadits Basyir bin al-Khashashiyyah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Aku pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam untu berbai'at masuk Islam. Maka beliau mensyaratkan kepadaku:

"Engkau bersaksi  tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, engkau shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, mengeluarkan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berjihad di jalan Allah."
Dia melanjutkan, "Aku berkata: 'Wahai Rasulullah, ada dua yang aku tidak mampu; Yaitu zakat karena aku tidak memiliki sesuatu kecuali sepuluh dzaud (sepuluh ekor unta) yang merupakan titipan dan kendaraan bagi keluargaku. Sedangkan jihad, orang-orang yakin bahwa yang lari (ketika perang) maka akan mendapat kemurkaan dari Allah, sedangkan aku takut jika ikut perang lalu aku takut mati dan ingin (menyelamatkan) diriku."
Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menggenggam tangannya lalu menggerak-gerakkannya. Lalu bersabda,

"Tidak shadaqah dan tidak jihad? Dengan apa engkau masuk surga?"
Basyir berkata, "Lalu aku berkata kepada Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, aku berbaiat kepadamu, maka baitlah aku atas semua itu." (Imam al-Hakim berkata: Hadits shahih. Al-Dzahabi menyepakatinya)
 
Sesungghunya jika ada kesalahan maka itu adalah kelalaian dari penulis semata, semoga Allah mengampuni kita semua.


Minggu, 21 Februari 2016

Amal Jama'i

Amal jamai secara etimologi memiliki arti sebagai berikut:
Amal adalah perbuatan sedangkan jama’I adalah jamaah atau bersama-sama jadi secara etiomologi atau secara definisi bahasa amal jama’I adalah suatu amal atau perbuatan yang dilakukan secara bersama-sama (berjamaah). Sedangkan secara istilah Al-‘amalul al-jamaa’i berarti bekerja sama berdasarkan kecepakatan dan bekerja bersama-sama sesuai tugas yang diberikan untuk memantapkan amal. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa Al-‘amalul al-jamaa’i merupakan suatu perbuatan yang dilakukan secara bersama-sama sesuai dengan hasil kesepakatan dalam hal kebaikan dengan memanfaatkan potensi masing-masing anggotanya untuk memaksimalkan amal atau perbuatan tersebut untuk merealisasikan cita-cita yang mulia. Adapun perintah Allah untuk beramal jamai terdapat dalam beberapa ayat sebagai berikut:
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. 3:103-104)
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharap perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Q.S. 18:28)
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Q.S. 61:4)
Dari berbagai potongan ayat di atas sesungguhnya Allah lebih mencintai hambaNya yang beramal soleh secara berjamaah atau bersama-sama. Dan Allah melarang kita untuk bercerai berai karena perpecahan hanya akan membuat Al-islam semakin jauh dari kejayaan. Sejarah sudah membuktikan bagaimana Rasulullah SAW beramal secara berjamaah bersama para sahabat sehingga terbentuklah pemerintahan di kota madinah yang berlandaskan syari’at islam yang kemudian kejayaan Al-islam tersebar luas ke berbagai penjuru dunia tidak hanya di jazirah arab saja. Coba kita bayangkan seandainya Rasulullah SAW tidak berjuang secara berjamaah maka apa yang akan terjadi? Maka dari itu hal yang pertama RAsulullah SAW lakukan untuk mensyiarkan islam dan menyerukan orang-orang untuk beraqidah islam adalah mengumpulkan orang-orang potensial seperti Abu Bakar r.a, Umar bin Khattab r.a, Hamzah bin Abdul Muthalib, Ali bin ABi thalib r.a,  Usman bin Affan, dan sebagainya kemudian Rasulullah SAW memanfaatkan potensi masing-masing sahabt untuk berkontribusi secara maksimal bagi Al-islam sehingga sampailah islam ke lubuk Hati kita.
            Mengapa amal jamai menjadi sangat penting dalam berupaya menegakkan syari’at?berikut ini adalah urgensi dari amal jama’I secara singkat:
·         Dustur Illahi, seperti yang Allah perintahkan dalam QS:3:104
·         Tabi’at alam, coba kita saksikan adakah makhluk hidup yang mampu hidup hanya sebatang kara?
·         Cara yang efektif, beramal jama’I adalah cara yang efektif baik dalam berdakwah kepada sesame ataupun beramal karena tentunya sesuatu yang dikerjakan bersama-sama memiliki keutamaan tertentu.
·         Saling menguatkan, jika berjamaah bersama orang-orang yang solih maka akan saling mengingatkan dan saling menguatkan QS:Al-Maaidah:2
·         Lebih dicintai Allah SWT QS:As-shaaf:4

Ada beberapa ciri yang mengindikasikan bahwa gerakan atau amalan yang dilakukan adalah amal jama’I, diantaranya adalah:
·         Aktivitas yang dijalankan haruslah keputusan jama’ah, artinya jika dilakukan oleh sebuah lembaga misalnya LDJ, HIMA, BEM haruslah hasil keputusan syuro atau rapat.
·         Memiliki susunan jama’ah atau lembaga yang jelas, dan kegiatan atau aktivitas yang dilakukan haruslah rapih dan terprogram. Tujuannya diangkatn seorang pemimpin jama’ah (ketua) adalah semata-mata untuk memudahkan gerak dari jama’ah itu sendiri untuk mencapai tujuan jama’ah dan menerapkan ajaran-ajaran islam.
·         Seluruh kegiatan yang dilakukan semata-mata hanya mengharap Ridho Allah SWT
Oleh karenanya kita sebagai seorang muslim haruslah bergerak bersama jama’ah, berhimpun dengan orang-orang salih, untuk saling mendukung dan saling menguatkan satu sama lain. Kewajiban seorang hamba didunia ada dua, kewajiban untuk beribadah kepada Allah dan kewajiban untuk mensyiarkan agama Allah, artinya kita memang diwajibkan untuk beramal jama’i dalam rangka mensyiarkan agama islam hingga raga dan jiwa kita memang sudah tidak sanggupn lagi untuk mengemban amanah tersebut.

Wallohua’lam..

Husnudzon (Berprasangka Baik)


Secara etimologi khusnudon berasal dari kata hasan (baik) dan dzon (prasangka) artinya berprasangka baik. Sedangkan secara istilah husnudzon adalah berprasangka terhadap takdir Allah SWT dan berprasangka baik terhadap makhluk-makhluk Allah SWT. Orang yang memiliki sifat husnudzon tidak akan mudah menyalahkan atau menuduh orang lain untuk menutupi kesalahan atau kekurangan dirinya sendiri. Husnudzon juga akan senantiasa menghadirkan rasa ketenangan di dalam hati kita ketika suatu musibah menimpa kita, sehingga akan mentarbiyah diri kita untuk menjadi lebih dewasa.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS:Al-Hujurat:12)
Adapun jenis-jenis dari husnudzon akan dijelaskan secara singkat sebagai berikut:
·         Husnudzon terhadap Allah SWT
Berprasangka baik kepada Allah terhadap nikmat apa saja yang Allah berikan kepada kita, hal ini akan menjadikan kita sebagai hamba yang selalu bersyukur.
·         Husnudzon terhadap diri sendiri
Artinya senantiasa husnudzon terhadap semua bakat dan potensi yang kita miliki, karena kita adalah sebaik-baiknya ciptaan. Hal ini akan membuat kita menjadi lebih percaya diri dan semangat dalam beraktivitas sehari-hari
·         Husnudzon terhadap sesama manusia
Artinya berhusnudzon terhadap sikap dan perilaku saudara kita, hal ini akan membangun pondasi ukhuwah yang sangat baik dan mencegah terjadinya konflik-konflik yang mengarah pada permusuhan.

Ibnu qoyyim pernah berkata:
Telah nampak jelas perbedaan antara husnudzan dengan ghurur (tipuan). Adapun Husnuzan, jika ia mengajak dan mendorong beramal, membantu dan membuat rindu padanya: maka ia benar. Jika mengajak malas dan berkubang dengan maksiat: maka ia ghurur (tipuan). Husnuzan adalah raja' (pengharapan). Siapa yang pengharapannya mendorongnya untuk taat dan menjauhkannya dari maksiat: maka ia pengharapan yang benar. Sedangkan siapa yang kemalasannya adalah raja' dan meremehkan perintah: maka ia tertipu." (Al-Jawab al-Kaafi: 24) .

Adapaun perintah husnudzon akan dijabarkan seperti berikut ini:
"Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, jika ia mengingat-Ku dalam sekumpulan orang maka Aku akan mengingatnya dalam sekumpulan yang lebih baik dan lebih bagus darinya. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepada-Nya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sufyan, dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu berkata : tiga hari sebelum meninggalnya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, aku mendengar beliau bersabda : “ Janganlah seorang diantara kalian meninggal kecuali dia telah berbaik sangka kepada Allah “ (H.R. Muslim)

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (Q.S. al-Anfal 24)

Dalam implementasi kehidupan kita di kampus, husnudzon menjadi sangat penting, contohnya dalam kegiatan di bangku kuliah. Jika kita mampu husnudzon terhadap dosen-dosen, inshaAllah proses menyerap pelajaran akan menjadi lebih mudah karena tidak terfikir untuk menjelek-jelekkan dosen, membuat dugaan – dugaan yang tak berdasar, apalagi sampai merendahkan dan menganggap remeh dosen. Selain itu dalam kegiatan berorganisasi, adakalanya kita harus husnudzon terhadap pemimpin-pemimpin kita di organisasi, karena sama-sama kita ketahui kebijakan yang dibuat oleh pemimpin-pemimpin yang soleh tidak akan menjerumuskan kita ke perbuatan-perbuatan dosa melainkan seharusnya kita dukung secara penuh, begitu juga bersikap husnuzon terhadap mentor-mentor atau murobbi-murobbi kita, inshaAllah mereka semua memiliki harapan dan cita-cita mulia untuk kita semua yang ingin mereka realisasikan.


Wallohua’lam..

Jumat, 20 November 2015

Birrulwalidain (Berbakti kepada Kedua Orang tua)

Berbakti kepada kedua orang tua adalah sebuah kewajiban bagi seorang anak terlebih dia seorang muslim. Oleh karenanya berbakti kepada kedua orang tua merupakan salah satu amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT selain solat lima waktu berjamaah dan diawal waktu.
“ dari Abdullah bin Mas’ud r.a. ia berkata: “ Saya bertanya kepada Nabi saw: amal apakah yang paling disukai oleh Allah Ta’ala?” beliau menjawab: “ shalat pada waktunya. “ saya bertanya lagi: “ kemudian apa?” beliau menjawab: “ berbuat baik kepada kedua orang tua. “ saya bertanya lagi: “ kemudian apa?” beliau menjawab: “ berjihad(berjuang) di jalan Allah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
            Di zaman modern seperti saat ini, teknologi sudah tidak bisa dibendung sehingga berbagai informasi, pemikiran, ideology, sangat mudah kita dapatkan. Sangat penting rasanya untuk bisa membentengi diri agar bisa memfilter berbagai informasi, pemikiran, dan ideology yang melenceng. Salah satu efek negative dari mudahnya informasi, pemikiran, dan ideology yang kita dapatkan sehingga budaya westernisasi semakin berkembang ditengah-tengah kita. Salah satunya budaya westernisasi yaitu tidak memuliakan kedua orangtuanya seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Lantas apakah ada firman Allah atau Hadits Rasulullah SAW yang mengharuskan kita sebagai seorang muslim yang memiliki kedua orang tua untuk berbakti kepada kedua orang tua? Sudah tentu ada sebagaimana Allah berfirman:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah selain kepada-Nya dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. ” (QS. Al-Isra’: 23)
“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.” (QS. Al-Ankabut: 8)
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. . .” (QS. Al-Ahqaf: 15)
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)
Abdullah bin ‘Amrin bin Ash r.a. ia berkata, Nabi SAW telah bersabda: “ Keridhoaan Allah itu terletak pada keridhoan orang tua, dan murka Allah itu terletak pada murka orang tua”. ( H.R.A t-Tirmidzi. Hadis ini dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim)
Dari beberapa potongan ayat dan hadits di atas, maka setidaknya kita sudah memiliki beberapa alasan mengapa kita harus berbakti kepada kedua orang tua?yang pertama adalah sebagai implementasi iman dan taqwa kita. Seorang muslim sudah tentu harus meyakini seluruh perintah yang terkandung di dalam al-qur’an karena itu adalah bagian dari rukun iman, bentuk taqwa kita adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya dimana Allah memerintahkan kita untuk memuliakan kedua orang tua kita dan tida berperilaku kasar kepada mereka. Alasan yang kedua adalah untuk mendapatkan ridho dan surgaNya, seperti kutipan hadits di atas bahwasanya ridho Allah terletak pada keridhoan orang tua, dan sebuah ungkapan yang tidak asing di telinga kita, yaitu surge di bawah telapak kaki ibu. Alas an yang ketiga adalah balasan yang pantas atas pengorbanan mereka, Sembilan bulan kita dalam kandungan ibu kita dan dua tahun kita disusui apakah ada perbuatan sebagai bentuk rasa cinta kita kepada keduanya (ayah dan ibu).
Sebagai seorang anak tentunya kita harus bisa memuliakan mereka, membahagiakan mereka serta mendoakan mereka. Menjalin komunikasi dengan mereka merupakan sarana untuk berbakti kepada mereka. Islam mengajarkan kita bagaimana adab berbicara dengan kedua orang tua kita.
  • ·         Menghormati keduanya dengan tidak memandang keduanya dengan pandangan yang tajam dan tidak meninggikan suara di hadapan mereka
  • ·         Tidak mendahulukan untuk berbicara kepada kedua orang tua

“Dulu kami berada di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian didatangkanlah bagian dalam pohon kurma.  Lalu beliau mengatakan, “Sesungguhnya di antara pohon adalah pohon yang menjadi permisalan bagi seorang muslim.” Aku (Ibnu ‘Umar) sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu adalah pohon kurma. Namun, karena masih  kecil, aku lantas diam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Itu adalah pohon kurma.” (HR. Bukhari no. 72 dan Muslim no. 2811)
  • ·         Tidak duduk di hadapan kedua orang tua yang sedang berdiri

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sakit. Lalu kami shalat di belakang beliau, sedang beliau shalat sambil duduk dan Abu Bakar mengeraskan bacaan takbirnya. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menoleh kepada kami. Beliau melihat kami shalat sambil berdiri. Lalu beliau berisyarat, kemudian kami shalat sambil duduk. Tatkala salam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Jika kalian baru saja bermaksud buruk, tentu kalian melakukan seperti yang dilakukan oleh orang Persia dan Romawi. Mereka selalu berdiri untuk memuliakan raja-raja mereka, sedangkan mereka dalam keadaan duduk. Ikutilah imam-iman kalian. Jika imam tersebut shalat sambil berdiri, maka shalatlah kalian sambil berdiri. Dan jika imam tersebut shalat sambil duduk, maka shalatlah kalian  sambil duduk’.” (HR. Muslim no. 413)
  • ·         Janganlah seorang anak membalas orang tua yang mencelanya

“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”.” (QS. Al Isro’ [17] : 23)
  • ·         Tidak berbicara dengan nada yang lebih tinggi dari kedua orang tuanya

Seorang anak memiliki adab yang harus dipenuhi terhadap kedua orang tuanya. Diantaranya adalah:
  •            Al muhaqodhotu alal kaul (menjaga perkataan atau lisan)

Seorang anak hendaknnya menjaga dan memelihara ucapannya dihadapan orang tua, terlebih bagi mereka yang sudah berusia lanjut jangan sampai perkataan atau perbuatannya menyinggung perasaan mereka, sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam Qs.17 : 23.
  • ·           Khofdul Jannah

Sikap bahasa tubuh seorang anak tidak boleh membusungkan dada terhadap orang tua melainkan merendahkan diri kepada keduanya dengan penuh kasih sayang dan mendoakan mereka agar keduanya dikasihi Allah sebagaiman mereka mengasihinya waktu kecil. Hal ini diperintahkan Allah SWT dalam Surat Al Israa’ ayat 24
·         Attoah Almushahabah
Akhlaq seorang anak yang taat dan kedekatan serta keakraban terhadap orang tua. Walaupun mungkin ketidaktaatan seorang anak kepada orang tua karena permasalahan yang sangat syar’i (prinsip) tetapi sikap mushahabah (keakraban) tetap harus dilakukan karena itu merupakan hak orang tua, Allah menjelaskannya dalam Qs. 31:15.
  • ·         Sabatulbirri ba’da wafatihima

Tetap berkewajiban berbakti kepada orang tua setelah kedua meninggal dunia. Dalam surat An Anjm ayat 39-41 bahwa Allah SWT memberikan kesempatan kepada orang tua yang meninggal dunia masih memiliki simpanan amal kebaikan yang dapat diperoleh dari anak-anak yang sholeh dan sholeha. Dalam suatu hadist dikisahkan bahwa suatu ketika datang seseorang menghadap Rasulullah SAW kemudian berkata “Ya Rasulullah apakah masih ada kesempatan untuk berbakti aku kepada orang tuaku setelah keduanya meninggal dunia?” Rasulullah dengan tegas menjawab “Ya, masih ada”. Ada 5 hal yang harus dijalankan setelah kepada seorang anak agar berbakti kepada orang tua yang telah meninggal :
a. Asshalatu ‘alaihima (berdo’a untuk keduanya)
b. Wal isthigfaru lahuma (memohonkan ampun keduanya)
c. Wainfadzu ahdihima (melaksanakan janji-janjinya)
d. Waiqramu shadiqihima (memuliakan teman-teman keduanya)
e. Wasilaturrahimmisilati latu shallu illa bihima (silaturrahmi kepada orang-orang yang tidak ada hubungan silaturahmi kecuali melalui wasilah kedua orang tua)




Ma'rifatul Islam


Islam adalah satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah yang diturunkan melalui para nabi dan rasulNya untuk disampaikan kepada seluruh makhluk ciptaanNya. Mempelajari dan mengenal islam menjadi kewajiban bagi umat muslim karena dengan mempelajari dan mengenal islam kita bisa membedakan suatu perbuatan yang haq dan bathil.
Islam berasal dari kata salm(sin lam mim) yang memiliki arti damai kemudian dari kata salima dibentuk menjadi kata aslam yang memiliki arti menyerah.  Artinya islam sudah sangat jelas menjujnjung tinggi nilai-nilai perdamaian kita bisa saksikan ketika di masa kekhalifahan Umar bin Khattab orang-orang muslim bisa hidup berdampingan dengan damai bersama orang-orang kafir. Sedangkan menyerah artinya ketika kita beriman kepada Allah dan RasulNya maka kita harus ridho dan ikhlas menyerahkan apasaja yang kita miliki yang kita cintai untuk kepentingan di jalan Allah. Sedangkan islam sendiri memiliki arti yang sangat luas. Adapun makna islam secara istilah akan dijabarkan sebagai berikut:
·         Al wahyu illahi (Wahyu Alloh)
Secara istilah Al-Islam ialah suatu ajaran dimana manusia harus tunduk pada wahyu-wahyu Alloh yang diturunkan melalui nabi-nabinya terutama Rosululloh saw. Al Quran adalah wahyu Alloh yang diturunkan melalui nabi Muhammad saw jadi Islam adalah Al Quran dan Al Quran adalah petunjuk Alloh, sesuai dengan firman-Nya : “Sungguh Al Quran ini memberikan petunjuk yang lurus:. Dengan kata lain Islam itu apa yang di firman Alloh dan disabdakan oleh Rosululloh saw.
·         Islam dinnul anbiya (Islam agama para nabi dan mursalin)
Islam merupakan agama para nabi mulai dari nabi Adam As sampai nabi yang terakhir yaitu Nabi Muhammad saw. Sebagaimana yang dikisahkan dalam Al-Quran, Nabi Nuh As bersabda “Dan aku diperintahkan menjadi orang-orang Islam”. Juga Nabi Ibrahim As bersabda “Jadikanlah Ya Alloh orang-orang yang beragama Islam, aku dan anakku (Islamil As)”.

·         Islam minhajul hayat (Islam pedoman kehidupan)
Al minhaj wal manhaj at thorighul wadih artinya minhad (pedoman/sistem) atau manhad adalah jalan yang jelas. Islam adalah pedoman dalam seluruh aspek kehidupan politik, social dan budaya meliputi dimensi ruang dan waktu. Islam merupakan ajaran yang universal.
·         Ahkamullah fi kitabihi wa sunnaturrasulihi (hukum Alloh yang ada dalam Al-Quran dan As Sunnah)

Islam itu adalah hukum-hukum Alloh yang terkandung dalam Al-Quran dan Al Hadist. Al Hadist (Sunnah Rasul) untuk menjelaskan ayat-ayat Al Quran agar manusia lebih memahami. Dan Al Quran adalah kitab transfaran yang dapat dibaca oleh setiap manusia, ini bukti bahwa seorang muslim bersermin pada pribadi Rasululloh.
·         As Sirathul Mustaqim (Jalan yang lurus)
Islam adalah jalan yang lurus. Seorang muslim ialah orang yang jalannya lurus, sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-Fatihah “Tunjukilah kami jalan yang lurus”.

·         Salaamutul dunia wal akhirat (Selamat dunia dan akhirat)
Islam adalah keselamatan dunia dan akhirat. Di contohkan pada zaman kehidupan Rasul bersama para sahabatnya dapat disebut juga zaman kebersihan jiwa. Dikisahkan dengan seorang wanita Al Ghomidiah yang telah ber-zina, dan dilaporkannya perbuatan tercela tersebut kepada Rasululloh saw agar dia dihukum. Tetapi tidak langsung memberlakukan hukum rajam karena ternyata wanita itu dalam keadaan hamil, Rasululloh memerintahkannya agar pulang dan kembali setelah melahirkan. Setelah melahirkan wanita itu dating kembali menemui Rasululloh agar segera dihukum, tetapi wanita tersebut diperintahkan pulang agar menyusui bayinya sampai cukup besar. Beberapa lama kemudian setelah 2 tahun menyusui bayinya wanita tersbut dating kepada Rasululloh, barulah Rasululloh memberlakukan hukum rajam kepada wanita Al Ghomidiah tersebut. Kisah tersebut menunjukan bahwa wanita itu lebih takut azab Alloh yang lebih dasyat daripada siksa dunia. Keselamatan dunia dan akhirat yang benar adalah menurut Alloh dan Rasul-nya. Ketika mengajak umat manusia untuk memeluk Islam berarti mengajak kepada keselamatan dunia dan akhirat.

Berikut ini adalah ayat-ayat al-qur’an yang mempertegas bahwa islam adalah agama yang diridhoi Allah:
”Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (QS Al-Mu’minun ayat 71)

“Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran ayat 19)

”Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali Imran ayat 85)

“(Kuasa Allah ta’aala) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah ta’aala, Dialah Al- Haq (Kebenaran) dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah ta’aala, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah ta’aala, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS Al-Hajj ayat 62)

Islam bukan hanya suatu rutinitas ritual dalam menghamba kepada Sang Pencipta, islam melaikan agama yang sangat sempurna yang tidak hanya mengatur ibadah saja tetapi islam mengatur seluruh aspek kehidupan olehkarena itu jika kehidupan kita ingin mendapat keberkahan maka tunduk dan patuhlah terhadap ajaran islam baik dalam bernegara, berkeluarga, menuntut ilmu, dan lain sebagainya.







Selasa, 17 November 2015

Abdullah bin Masud

Tidak ada yang menyangka jika ‘dia’ yang semula pengembala kambing berpostur kecil dan kurus kering akan menjadi seseorang yang dekat dengan Kekasih Allah, Muhammad SAW. Kecerdasan dan kesetiannya mengantarkannya menjadi satu dari sepuluh orang generasi sahabat yang dijamin menjadi penghuni syurga. Subhanallah..
Namanya adalah Abdullah bin Mas’ud. Kecintaannya terhadap islam diawali dari pertemuan Abdullah bin Mas’ud yang tidak disengaja dengan Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash-sidiq di tanah lapang. Sambil dilanda rasa haus Rasullah SAW yang didampingi sahabat sejatinya Abu Bakar Ash-sidiq menghampiri Abdullah bin Mas’ud yang sedang mengembala hewan peliharaan milik majikannya. Rasulullah SAW dengan kelembutannya menyapa Abdullah bin Mas’ud dan meminta sedikit susu dari hewan yang digembalakan oleh Abdullah bin Mas’ud untuk menghilangkan dahaga sisa perjalanan risalah dakwah beliau. Abdullah bin Mas’ud menjawab “maaf hewan gembala ini bukan milikku melainkan milik majikanku” meskipun Abdullah bis Mas’ud mengerti bahwasanya majikannya tidak akan mengetahui jika dirinya memberikan sedikit susu hewan gembalaannya kepada Rasulullah SAW. “ambilkan aku seekor hewan gembalaan betinamu yang belum pernah berkembang biak (melahirkan anak)”. Abdullah bin Mas’ud dengan sigap menuruti perintah Rasulullah SAW meskipun saat itu dia belum mengetahui bahwa Muhammad bin Abdullah adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus Allah SWT. Setelah dibawakannya hewan gembala milik majikan Abdullah bin Mas’ud kehadapan Rasulullah SAW, Rasulullah SAW mengusap-usap perut hewan tersebut sambil memanjatkan do’a. Abdullah bin Mas’ud terkaget-kaget ketika menyaksikan tiba-tiba perut hewan tersebut membesar dan menghasilkan susu melihat kejadian tersebut Abdullah bin Mas’ud sadar bahwasanya Muhammad SAW bukanlah orang biasa, beliau adalah Nabi dan Rasul yang diberi mukjizat oleh Allah dan kejadian tersebut hanyalah mukjizat kecil yang Abdullah bin Mas’ud saksikan sebelum ia menyaksikan mukjizat-mukjizat besar lainnya dikemudian hari.
Setelah Abdullah bin mas’ud memeluk agama islam ia menjadi salah satu sahabat yang sangat luas wawasan keislamannya hingga khalifah umar bin khattab dan khalifah Ali bin Abi Thalib mengakuinya. Suaranya yang merdu ketika melantunkan ayat-ayat suci al-qur’an membuat Rasulullah SAW senang mendengarnya hingga Rasulullah mengatakan “barang siapa yang ingin mendengar bagaimana al-qur’an saat diturunkan maka dengarkanlah bacaan Abdullah bin mas’ud, barang siapa yang ingin membaca al-qur’an seperti saat diturunkan maka bacalah seperti bacaan Abdullah bin Mas’ud”. Selain itu keistimewaan Abdullah bin Mas’ud adalah beliau merupakan sahabat Rasulullah SAW yang pertama membacakan ayat-ayat suci al-qur’an di hadapan pemuka kaum quraisy hingga beliau mendapatkan ‘hadiah’ memar-memar di wajahnya akibat keberaniannya. Selain itu beliau adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah SAW, sahabat yang dipercaya oleh Rasulullah SAW untuk mendengarkan keluh kesahnya selama berdakwah dan salah satu sahabat yang diizinkan bertamu ke rumah Rasulullah SAW disaat sahabat-sahabt yang lain tidak diizinkan. Beliau juga salah satu sahabat yang selalu hadir di garda terdepan untuk mengibarkan panji-panji Allah bersam Rasulullah SAW di medan perang. Tidak hanya keberanian dan kesetiannya saja yang patut diacungi jempol tetapi sifat zuhudnya juga bias diteladani. Ketika beliau menjadi salah satu pejabat di zaman kepemimpinan Usman bin Affan beliau sempat tidak menerima gaji meskipun gaji tersebut adalah haknya tetapi hal tersebut tidak mengurangi sedikitpun ketaatannya terhadap perintah Khalifah Usman bin Affan dan dia selalu membela Usman bin Affan di hadapan kelompok-kelompok yang ingin melakukan pemberontakan di zaman kekhalifahan Usman bin Affan.

Sahabat.. Meskipun sekarang kita hidup di zaman yang berbeda, di zaman yang serba modern seharusnya kita bukan terlena dengan segala kemudahan yang bias kita dapatkan sehingga kita lalai terhadap perintah-perintah Allah dan sunnah-sunnah Rasulullah SAW melainkan segala kemudahan yang kita dapatkan saat ini bias mengantarkan kita untuk lebih dekat lagi dengan Zat yang Maha Besar, lebih rajin lagi melaksanakan sunnah-sunnah Rasul seperti yang sahabat-sahabat Rasulullah SAW lakukan. Selain itu kisah Abdullah bin Mas’ud di atas juga seharusnya bias kita jadikan ibroh (pembelajaran) dan bias kita teladani agar kita bias berkumpul bersama-sama di dalam Jannah-Nya kelak.