Tampilkan postingan dengan label Opinion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opinion. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Oktober 2016

Menerima karena Cinta

Pagi ini biasanya aku masih terbaring di ranjang setelah selesai melaksanakan solat subuh, tetapi karena ada suatu hal yang menyebabkan ibunda tidak sempat masak untuk sarapan pagi kami. Terpaksalah aku berangkat memburu nasi uduk untuk mengisi menu sarapan pagi. Warung masih sepi, aku pelanggan kedua yang memesan nasi uduk dengan lauk 'bala-bala' sebagai pelengkap. Tidak ada yang istimewa, warung sederhana yang sempit hanya ada beberapa bangku plastik yang menjadi penghias warung itu. Hingga datang pelanggan lainnya, suami istri. Tidak ada yang istimewa dengan pasangan ini, tetapi perhatian saya tiba-tiba teralihkan ke sang istri yang memesa nasi uduk dengan tupperware ungunya yang sudah siap untuk diisi. Sang istri hanya menunjuk-nunjuk serta mengangguk-ngangguk untuk memilih menu nasi uduk yang akan mengisi tupperware ungunya. Saya masih sedikit heran, kenapa sang istri tidak langsung memesan dengan berbicara langsung saja ke penjual toh itu jauh lebih  mudah dimengerti. Hingga akhirnya aku menyadari, ternyata sang istri bisu setelah suaminya mengajak diskusi dengan menggunakan bahasa isyarat. Saya kagert, kaget karena sang suami yang secara fisik normal, gagah, lumayan tampan tapi bersedia menerima wanita yang bisu untuk menjadi pendamping hidupnya. Detik itu juga hatiku ngilu, mencoba mengambil hikmah dari peristiwa yang baru saja aku saksikan. Aku mencoba mencari arti kata cinta, karena hari ini kata cinta diobral begitu murah sehingga tak heran begitu banyak wanita yang air matanya kering sia-sia karena ditipu dengan iming-iming cinta. Meskipun aku belum merasakannya karena belum menikah, tapi aku mencoba mengambil hikmah dan menginterpretasikan makna cinta dari sudut pandang pribadi. Cinta bukanlah usaha mendominasi karena kelebihan yang dimiliki, tetapi cinta adalah usaha untuk menerima kekurangan memberi dengan kelebihan dan bertahan dengan keikhlasan. Jika kita hanya memaksakan kelebihan kita untuk dimiliki oleh pasangan kita kelak, rasanya akan jauh lebih sulit dibandingkan dengan menerima kekurangan pasangan kita dan menyempurnakannya dengan kelebihan yang kita miliki. Saya ingin menutup tulisan ini dengan hikmah
Cinta janganlah kau jual dengan harga murah
Cinta bukan baju lebarang yang bisa diobral
Cinta adalah suci
Cinta sesama mendekati sempurna
Jika belum ikhlas maka belum cinta
Jika belum menerima maka belum cinta
Jika belum memberi maka belum cinta
Janganlah mencintai jika belum siap menikahi :D

Rabu, 28 September 2016

apakah kelulusan ini akan membuat aku menjadi beban negara atau menjadi kontributor untuk kemajuan negara?

Rasanya baru kemarin aku sampai di kota pahlawan ini, hadir di antara ribuan calon mahasiswa baru di gedung BAAK samping gedung Rektorat milik kampus berperingkat empat nasional. Didampingi Ibu dan Ayahanda tercinta, melepas putranya yang akan menjalankan studi sarjananya di kota yang jaraknya 825km dari rumah. Anak yang sejak TK sampai SMA selalu berada di dekat rumah, yang hanya bertahan satu minggu ketika dititipkan di pondok yang ada di Sukabumi. Tetapi apadaya, besi sudah terlanjur menjadi baja dan tidak mungkin akan kembali menjadi Bijih besi kembali. Studi di kota pahlawan merupakan pilihan pribadi, yang sudah aku ikrarkan sejak duduk di bangku kelas 2 SMA, dan Alhamdulillah Allah memberikan jalan dan kemudahan dengan segala Kuasa-Nya. Niat sudah terlanjur bulat, tekad sudah terperosok dalam di dalam hati, hati pun sudah ikhlas untuk pertama kalinya berusaha survive tanpa keluarga. Masih teringat betul jika kedua orang tua hanya menemaniku selama satu hari dan esoknya pun kembali pulang meninggalkan di sudut kamar sempit hanya beralas karpet karet dan kasur lampung yang akan membuat rusukkuu sakit ketika berjuang melawan dinginnya malam.
Time flies so fast, begitu kalau kata anak zaman sekarang. Waktu memang bergulir begitu cepat, disinilah awal mula diriku ditempa, didera, disiksa, dan dipaksa tentunya untuk menjadi pemuda yang dewasa, mandiri, matang, dan berpengalaman. Masa-masa awal perkuliahan terasa begitu lama dan sulit, adaptasi dari metode belajar ketika SMA dan kuliah membutuhkan waktu karena keduanya sangat berbeda. Belum lagi kegiatan mahasiswa baru yang sangat padat, layaknya anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang setiap harinya rapat, kami pun sebagai mahasiswa baru begitu. Hampir setiap sore hingga larut malam kami rapat, dimana agenda rapat kadang terasa tidak penting tapi sungguh rapat itu membuat kami mahasiswa baru menjadi saling kenal satu sama lain, sehingga kami sampai hapal nama lengkap, nomer induk mahasiswa, dan asal daerah. Bahkan terkadang, hari libur kamipun dirampas untuk kegiatan-kegiatan mahasiswa baru yang sangat padat. Every day is Monday, begitulah kira2 gambaran aktivitas kami ketika tingkat satu masa studi.

Begitu banyak kenangan, pengalaman, dan pembelajaran yang aku lalui selama masa studi, tanpa terasa empat tahun sudah aku menjalani masa studi di kampus tercinta dengan begitu banyak cerita pahit dan manis yang menjadi penyedap di sela-selanya. Hari ini, resmi sudah aku menyandang gelar ST (Sarjana Teknik), meskipun tidak mendapatkan IPK yang sempurna tetapi hari ini aku sangat bahagia, bukan bahagia karena sudah menyelesaikan masa studi melainkan hari ini aku diantar kembali oleh kedua orang tuaku tetapi kali ini bukan untuk mendaftar ulang sebagai mahasiswa baru melainkan untuk pamit di hadapan rektor dan para guru besar. Pamit untuk mengucapkan terimakasih yang sangat dalam karena baktinya untuk ikhlas mendidik dan mendewasakan pola fikirku. Wisuda bukan menjadi akhir tetapi yang aku rasakan wisuda merupakan babak baru dari kehidupan yang sebenarnya dimana ketika di kampus aku hanya bersaing dengan 100-1000 orang tetapi di dunia karier aku harus bersaing dengan ribuan bahkan jutaan orang yang membutuhkan pekerjaan yang di negeri ini sangat sulit didapatkan. Hari ini akan timbul pertanyaan, apakah kelulusan ini akan membuat aku menjadi beban negara atau menjadi kontributor untuk kemajuan negara? Welcome to the real life!

Senin, 25 Juli 2016

Sahabat Sampai Syurga


sebagai makhluk sosial sudah tentu manusia membutuhkan kehadiran orang lain untuk menemaninya, begitu pula yang Nabi Muhammad SAW contohkan kepada kita. Beliau memilih Abu Bakar As-Shidiq sebagai sahabat sejatinya. Dua insan manusia ini seharusnya kita jadikan contoh dalam kehidupan sehari-hari kita, dalam memilih teman sejati, dalam bergaul, karena dua insan manusia terbaik ini berteman bukan sembarang berteman melainkan bersahabat sampai syurga. seperti apa sih sahabat sampai syurga?
sahabat sampai syurga adalah
jika engkau bersamanya, maka engkau merasa semakin dekat dengan Allah
jika engkau melangkah bersamanya, maka langkahmu ringat untuk melangkah ke rumah-rumah Allah
jika engkau berbicara dengannya, maka lisanmu terasa ringan untuk bertasbih, bertahmid, dan bertakbir
jika engkau bepergian bersamanya, maka imanmu seperti batre yang tercharger senantiasa bertambah
berteman bukan sembarang berteman karena Rasulullah SAW sudah memberikan petunjuk melalui sabdanya.
Seorang mukmin merupakan cerminan saudaranya yang mukmin.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, no. 239; Abu Dawud, no.4918 [Ash-Shahihah, no. 926])
jika teman atau sahabat kita orang yang solih, inshaAllah kita juga akan termotivasi untuk menjadi orang yang solih pula. Jika teman atau sahabat kita orang yang rajin, inshaAllah kitapun akan ketularan rajin. Jika teman kita orang yang berwawasan luas, inshaAllah bersamanya wawasan kita akan terus bertambah.
Karena hakikatnya manusia akan terwarnai, dengan siapa ia menghabiskan hari-harinya maka akan seperti itulah sifat dan karakternya. Ada juga loh sumbernya:
Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
kebayang dong perumpamaan yang Rasulullah SAW sampaikan, pada dasarnya bukan berarti kita gak mau bergaul dengan semua orang tetapi tepatnya kita harus MEMILIH ya benar memilih, karena teman bisa mempengaruhi sifat dan karakter kita, masa depan kita, akhlak kita, cara berfikir kita, dan masih banyak lagi. Pasti kita semua berfikir, seharusnya kita bisa dong mengajak teman kita yang belum baik untuk 'hijrah' jadi lebih baik?ya tentu bisa dong, tapi sebelum itu sudahkan diri kita menjadi baik?dan sanggupkah kita bertahan dengan komitmen kita seorang diri?seandainya kita sudah berusaha menjadi lebih baik dan mencari teman yang baik pula untuk menjaga, mengingatkan, dan mendoakan kita otomatis usaha kita untuk mengajak teman-teman yang lain menjadi lebih baik lagi jauh lebih mudahkan?
guys, kita gak perlu takut atau khawatir dibilang gak gaul, gak asik, gak kekinian, cuma karena cara berpenampilan kita, berbicara kita, bergaul kita, dan lain sebagainya. kita gak perlu sibuk mikirin apa kata orang lain, lebih baik kita sibuk mikirin bagaimana nanti kita menghadap Allah SWT?bagaimana kita membahagiakan kedua orang tua?dan yang jelas bagaimana kita bangga menjadi seorang MUSLIM?ya saya bangga menjadi seorang MUSLIM!

Rabu, 06 April 2016

Sungguh Aku Rindu

Jadwal kuliah yang melelahkan ditambah dengan jadwal syuro (rapat) yang tidak sekali dua kali cukup menyita banyak tenaga dan merenggut waktu luang muda-mudi seperti kami. Sekumpulan mahasiswa semester pertengahan yang berangkat dari latar belakang berbeda, asal yang berbeda, dimana sebelumnya kami tidak pernah mengenal satu sama lain. Aktifitas itulah yang melengkapi kehidupan kampus kami di waktu terang. Kedekatan kami bermula karena kebetulan kami semua berada di jurusan yang sama di universitas yang sama dan pada angkatan yang sama. Hebatnya lagi kami dikumpulkan di kelompok yang sama, kelompok dimana kami mulai merangkai mimpi dan cita-cita, kelompok dimana kami sering sekali dimotivasi, diceramahi, atau bahkan sekedar diajari cara mengaji. Kelompok itu adalah kelompok mentoring untuk mahasiswa baru sebagai sarana untuk mentarbiyyah kami semua agar menjadi insan yang lebih baik lagi sehingga menjadi generasi rabbani bukanlah hal yang mustahil. Alhamdulillah kegiatan tarbiyyah kami dengan sarana mentoring ini terus berlanjut hingga sekarang (semester akhir), meskipun murobbi (mentor) kami kerap berganti mulai dari kaka tingkat yang harus digantikan karena beliau harus melanjutkan studi ke luar negeri, dosen walau kadang ditransfer ke dosen lain karena kesibukan dosen yang luar biasa sibuk. Tempat kami pun silih berganti, masjid, rumah makan, rumah dosen, bahkan sampai harus ke luar kota. Banyak sekali kisah yang terjadi selama kami mengistiqomahkan kegiatan tarbiyyah kami, kisah bahagia, kisah haru, kisah heroik, atau bahkan kisah romatis yang dibingkai dalam ikatan ukhuwah islamiyah yang menancap di dalam sanubari hati kami. Mungkin curahan hati saya di bawah ini akan menggambarkan suasana kegiatan tarbiyyah kami.
Aku rindu.
Aku rindu ketika kita menunggu sms atau kabar berita, berita majelis "ta'lim kita"
Aku rindu
Aku rindu ketika kita menembus gelap malam menuju rumah murobbi kita
meskipun lelah, meskipun hujan, meskipun ngantuk atau bahkan meskipun perut meronta akibat kelaparan
Aku rindu
Aku rindu ketika sahabat dan murobbiku mengoreksi tilawahku
Aku rindu
Aku rindu ketika sahabatku mendengarkan setoran hafalan qur'anku
Aku rindu
Aku rindu ketika taujih murobbiku menyentuh qalbuku, mengingatkan kehinaan ku atas dosa-dosa ku
Aku rindu
Aku rindu ketika sahabat ku membangunkanku ketika aku sangat ngantuk dalam lingkaran halaqohku
Aku rindu
Aku rindu ketika doa robitoh membuat kita merasa sangat dekat
Aku rindu
Aku rindu ketika kita bisa berkumpul dalam lingkaran kecil yang mengingatkan kita akan indahnya syurga dan betapa mengerikannya neraka

Sesungguhnya tidak ada kerinduan yang lebih indah selain kerinduan yang dilandasi dengan keimanan
Sesungguhnya tidak ada ikatan persaudaraan yang lebih erat tanpa dilandasi dengan cinta dan taqwa
Sesungguhnya tidak ada persahabatan yang lebih abadi tanpa ada seruan kebaikan di dalamnya
Sesungguhnya hanya do'a yang dapat menembus dimensi dan ruang yang berbeda.



Kamis, 31 Maret 2016

Go Hijrah!

Bismillahirrohmanirrohim..
'hijrah' menurut saya pribadi adalah suatu proses yang sangat panjang untuk memperbaiki diri semata-mata hanya unutk mendapatkan cinta dan ridha-Nya. proses yang menurut saya sangat sulit dilakukan oleh muda-mudi khususnya, bukan hanya sulit untuk memulainya tetapi unutk tetap bertahan on the track. bayangkan saja, begitu gemerlapnya kehidupan masa muda, banyak godaan, banyak kemudahan, banyak yang membuat nymana tetapi semua itu juga berujung pada banyaknya efek dosa yang bisa kita dapatkan, tetapi tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak, dan hidayah itu datangnya ga bisa diduga, ga ngasih notification apapun tetapi atas izin Allah hidayah akan mengetuk pintu hati hambaNya melalui perantara yang tidak diduga-duga. 
Pada dasarnya setiap muslim memiliki kecenderungan untuk berhijrah, karena suatu perbuatan dosa pasti akan menimbulkan gejolak internal di dalam hati kita, hanya saja memang kebanyakan perbuatan dosa itu memudahkan dan membuat kita nyaman. kebayang dong gimana sulitnya menjadi seorang hamba yang 'lurus' di zaman sekarang?gak heran jika Allah memberikan balasan yang begitu besar untuk hamba-hambanya yang bertakwa alias yang hidupnya "lurus".
Langsung aja nih, kita akan coba belajar tips and tricks berdasarkan pengalaman pribadi, meskipun saya sendiri masih sangat sedikit ilmunya dan masih belajar tetapi ga ada salahnya dong kalau kita mau sharing-sharing pengalaman?Tips hijrah yang pertama buat kita semua anak muda yang masih mencari jati diri, atau masih labil, atau masih belum menjadi muslim yang baik plus progresif plus produktif dan lain sebagainya adalah niatkan dalam diri kita untuk berusaha menjadi seorang hamba Allah yang lebih baik dan lebih soleh lagi. sama-sama kita tau, kekuatan niat itu luar biasa dan niat merupakan langkah yang paling utama bagi kita untuk melakukan apapun dan di dalam niatlah terdapat kekuatan yang sangat besar. Nah niat juga jangan sembaran niat, artinya niatkan "hijrah" mita semata-meata untuk mendapatkan cinta dan ridha Allah SWT semata, bukan untuk seseorang yang kita kagumi, bukan untuk mendapatkan warisan orang tua, atau bahkan bukan untuk dapat perhatian calon mertua. Niatkanlah diri kita untuk "berhijrah" karena Allah dan untuk Allah. Setelah niat sudah benar, hal yang selanjutnya adalah memohon ampun atas segala kesalahan dan kekhilafan kita selama ini atau lebih simplenya lagi adalah bertaubat. Ini adalah saat yang paling asik dan sulit. kenapa?menjadi sangat asik karena kita bisa menyesali kesalahan dan kekhilafan kita, dan itu adalah nikmat yang sangat luar biasa. Bayangkan berapa banyak orang-orang yang masih terlena dengan perbuatan-perbuatan dosa mereka? dan mengapa menjadi yang paling sulit?karena kita harus komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan dan kekhilafan kita lagi, bukankah hal itu sangat sulit?tapi tenang jika kita sudah niat dan senantiasa memohon pertolongan dari Allah serta melakukan beberapa tips di selanjutnya inshaAllah kita bisa (atas izin Allah). Oke tips and tricks yang ke-tiga adalah menambah wawasan keislaman secara kontinyu. Zaman sekarang, belajar itu sangat mudah,banyak sekali medianya. Bisa lewat buku, hadir di kajian-kajian, bisa dari youtube, dan lain-lain. sempatkanlah membaca buku setiap harinya walaupun hanya sebentar, hadir di majelis-majelis ilmu walaupun tidak sering, streaming kajian di youtube kan juga sekarang gampang banget guys. Karena dengan menambah wawasan keislaman kita akan semakin semangat untuk "berhijrah" karena kita akan lebih banyak tau lagi keutamaan "berhijrah". Kita juga akan semakin paham apa saja yang dilarang dan apa saja yang diperbolehkan, dan lain sebagainya. tips selanjutnya adalah menyibukkan diri dengan hal-hal yang positif. Ini sangat penting, sebisa mungkin manfaatkan waktu luang kita untuk melakukan sesuatu yang produktif dan positif karena kalau kita nganggur godaan syaitan dalam bentuk apapun itu sangat sulit dibendung. Bukan menjadi sok sibuk, tetapi mencoba memanfaatkan waktu yang ada untuk kegiatan-kegiatan positif dan produktif. Dan yang terakhir adalah berkumpul lah dengan orang-orang yang saleh. Zaman sekarang, komunikasi gak harus ketemu. Kita bisa berkumpul dengan orang-orang lewat group fb, line, whatsapp, bbm dan lain-lain. Tujuan dari berkumpul dengan orang-orang saleh adalah agar kita bisa saling mengingatkan satu sama lain dalam hal kebaikan selain itu juga bisa menjadi motivasi bagi kita untuk terus memperbaiki diri menjadi muslim yang lebih baik lagi.
Masa muda memang masa yang sangat menggiurkan, masa untuk bersenang-senang, tertawa dengan teman sebaya, menikmati perkembangan zaman, tetapi ingatlah pemuda yang sudah mengukir sejarah tidak menghabiskan masa mudanya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Ir. Soekarno di masa mudanya sudah menemani mentornya hoes cokroaminoto untuk keliling Indonesia membangun gerakan-gerakan pejuang kemerdekaan. Muhammad Al-fatih di masa mudanya dihabiskan untuk berlatih perang, menuntut ilmu, memimpin gerakan solat berjamaah dan membangun peradaban islam. Ali bin Abi Thalib r.a di masa mudanya sudah menjadi rujukan para sahabat karena wawasan keilmuannya yang luar biasa luasnya. Sesungguhnya hidup memang sebuah pilihan, tapi ingatlah bahagia di dunia dan akhirat juga merupakan sebuah pilihan. sekarang, buatlah pilihan yang tepat sesegera mungkin, karena usia kita tidak ada yang bisa menjamin guys!

Senin, 18 Januari 2016

Indonesia menangis tetapi masih optimis

Berbicara indonesia tidak akan ada habisnya. Negeri yang kaya raya di bangun di atas surga dunia yg membentang baik daratan ataupun lautan. Bangsa yg dibangun dengan darah perjuangan, mempertahankan kehormatan bukan kemunafikan. Di sini saya ingin beropini mengenai kondisi Indonesia tercinta yang memprihatinkan namun tetap memiliki harapan. Sejak era reformasi dari orde baru negara ini mengalami banyak peristiwa, peristiwa yang menyebabkan kegaduhan politik. Kontroversi kebijakan presiden-presiden dan jajarannya dalam rentan era reformasi hingga saat ini menimbulkan efek negatif bagi 200 juta lebih rakyat Indonesia. Saya tidak ingin membahas satu persatu kontroversi kebijakan karena saya merasa belum memiliki kompetensi untuk mengupas tuntas kontroversi kebijakan-kebijakan tersebut. Saya hanya ingin menyampaikan efek sampingnya saja menurut kacamata saya pribadi (read:subjektif). Pertama adalah efek terhadap kemiskinan, bangsa ini menurut saya masih jauh dari predikat sejahtera. Tidak usah jauh-jauh menengok ke papua, tepi kali ciliwung, pinggiran depok, tepi bekasi, kabupaten bogor yang notabennya dekat dengan ibu kota masih sangat mudah kita menjumpai kemiskinan. Belum lagi kasus busung lapar di indonesia bagian timur sana yang membuat hati miris, padahal indonesia sempat menjadi negara swasembada pangan di era pak harto. Padahal indonesia kaya sumberdaya alam (mineral, minyak, gas) tapi sayang dikelola bule-bule rakus dan 'tikus pengkianat'. Ke-dua adalah efek terhadap pendidikan, jumlah fasilitas pendidikan dengan jumlah rakyat indonesia menurut saya sangat tidak proporsional. Banyak sekali permasalahan pendidikan yg membuat saya geli, kurikulum yg galau, bangunan sekolah roboh, akses ke sekolah sulit, gaji guru tidak manusiawi, biaya sekolah mahal, dll. Meskipun anggaran pendidikan cukup besar (20% dari APBN) tetapi faktanya masalah-masalah sepele masih terjadi di lapangan. Ironis memang, tapi itu adalah kenyataan, padahal kita sama-sama tau bahwa kualitas pendidikan menentukan masa depan bangsa ini. Ternyata 70 tahun merdeka negeri yang besar ini masih berkutat dengan masalah-masalah sepele dalam dunia pendidikan. Yang ke-tiga adalah kemajuan teknologi. Indonesia sangat tertinggal dalam pengembangan dan inovasi teknologi di bandingkan negra tetangga (malaysia, singapura, dll). Hal ini disebabkan oleh masalah sepele juga, tidak adanya fasilitas yg memadai (contoh: laboratorium) dan kurang seriusnya pemerintah mendukung inovasi teknologi anak bangsa. Tengok saja, proyek pesawat terbang, drone, mobil listrik, ALUSISTA yang mandek dan akhirnya ditikung bangsa lain. Memalukan?ya, memang memalukan. Ide putra/i terbaik bangsa namun menjadi karya di negeri orang. Yang terakhir adalah krisis kepemimpinan, menurut saya sulit rasanya menemukan pemimpin bangsa ini yang jujur, ikhlas, dan benar-benar serius memimpin bangsa ini. Kalaupun ada, mesti ada saja yang menjegal kepemimpinannya sehingga tamat di tengah jalan. Pemimpin yg korupsi, tidak pro-rakyat, menjual aset negara, boneka amerika, ada saja kasus yang melekat pada masa baktinya. Kegaduhan politik yg selama ini terjadi membuat orang-orang jahat yang memiliki kepentingan tertentu rela melakukan segala cara untuk memperalat bangsa ini, dan mereka para kacung-kacung asing dan aseng akan terus menjadi pengkhianat bangsa ini tanpa ada sedikitpun rasa bersalah. Ketika bangsa indonesia dipimpin oleh pemimpin2 yg jujur, ikhlas, prorakyat, dan didukung oleh pendidikan yang maju dan merata serta serius dalam pengembangan dan aplikasi teknologi, rasanya Indonesia emas bukan lagi menjadi slogan semata melainkan menjadi kenyataan.
"Jatuh dan tersungkur
Menggoreskan luka jiwa dan raga
Bersumpah untuk mengabdi
Di atas bumi ibu pertiwi"