Tampilkan postingan dengan label figure. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label figure. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 September 2016

Meneladani Keluarga Nabi Ibrahim A.S

Tulisan di bawah ini merupakan ringkasan dari khotbah shalat Idul Adha KH. Abdul Hasib Hasan, Lc di Pesantren Terpadu Darul Qur'an Mulia (DQM) 1437H.

Di zaman yang saat ini sedang mengalami krisis multidimensi, ketika degradasi moral terjadi di semua kalangan. Ayah yang lupa dengan peran dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin rumah tangga, Ibu yang hanya sibuk menghabiskan uang ke pasar untuk berbelanja, dan anak remaja yang sibuk dengan permainan yang melalaikan tanggung jawabnya maka kita membutuhkan tiga sosok manusia yang mewakili semua pemeran dalam suatu keluarga, yaitu sosok Nabi Ibrahim A.S, Siti Hajar, dan Ismail A.S. 
Mengapa Nabi Ibrahim A.S?karena Nabi Ibrahim merupakan kekasih Allah yang diberi gelar sebagai pemimpin umat manusia karena ketaatan dan kesungguhannya dalam menyelesaikan perintah Allah SWT dengan sempurna.
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim AS diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim".(QS:2:124). Ada beberapa poin yang bisa kita jadikan ibroh dari sifat dan karakter dari Nabi Ibrahim A.S, diantaranya adalah:
  • Hanif
Nabi Ibrahim A.S adalah seorang hamba yang hanif, hanif disini bermakna berkomitmen untuk membela dan memperjuangkan kebenaran sehingga kita tidak akan memposisikan diri kita untuk membenarkan apalagi memperjuangkan kezaliman. hal ini dibuktikan ketika beliau memiliki keberanian di usia yang masih muda untuk menumpas segala bentuk kemusyrikan yang terjadi, dengan menghancurkan berhala-berhala yang dijadikan sesembahan meskipun beliau mengetahui resiko dan konsekuensinya, tetapi komitmen Nabi IbrahimA.S sudah jelas untuk membela dan memperjuangkan kebenaran.
  • Syukur
Bersyukur terhadap apa yang Allah berikan kepada kita akan membuat hati kita menjadi lapang, tidak ambisius sehingga kita tidak berambisi untuk menjadikan dunia sebagai orientasi hidup kita. 
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema’lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS:14:7). Sesungghunya yang membuat hidup kita terasa sempit bukan nominal gaji yang kita peroleh, tetapi rasa syukur yang tidak pernah bertambah setiap harinya atas nikmat yang telah Allah karuniakan.
  • Yakin
Di usia yang sudah tua, Nabi Ibrahim A.S tidak pernah berhenti dan putus asa untuk berdoa kepada Allah agar diberikan keturunan meskipun secara biologis sudah tidak mungkin tetapi Nabi Ibrahim A.S tetap yakin dan terus berdoa setiap harinya agar dikaruniakan keturunan yang soleh. Dan pada akhirnya Allah memberikan keturunan yang soleh kepadanya.
Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (QS:37:100-101)
Manusia itu penuh dengan keterbatasan, Allah lah yang akan memudahkan dan memberikan jalan maka berdoalah, berdoalah, dan terus berdoalah kepadaNya. 
  • Bersegera terhadap Perintah Allah
Nabi Ibrahim A.S selalu bersegera terhadap perintah Allah, yaitu ketika Nabi Ibrahim diperintahkan untuk membawa anaknya yang sangat ia cintai (Ismail A.S) menuju ke makkah bersama dengan ibunya (Siti Hajar). Kala itu makkah adalah negeri yang sangat tandus, sehingga sangat sulit untuk bertahan hidup di sana ditambah perbekalan yang dibawa hanyalah sedikit. Tetapi karena ini adalah perintah Allah, meskipun ia sangat mencintai anak dan istrinya tetapi karena ini adalah perintah Allah maka ia harus tetap menjalankannya.
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS:14:37)
ketika keluarga kecil Nabi ibrahim tiba di makkah, terjadi dialog yang sangat istimewa yang bisa dijadikan prinsip hidup bagi kaum wanita khususnya. ketika Nabi Ibrahim sudah melangkahkan kakinya meninggalkan istri dan anak yang sangat ia cintai, siti hajar bertanya kepadanya. "Apakah yang kamu lakukan ini adalah perintah Allah?". Sebagai wanita sangatlah wajar merasa keberatan jika ditinggal suaminya di tengah negeri yang tandus, tanpa adanya perbekalan yang cukup. Nabi ibrahim pun menjawab tanpa menoleh ke istrinya "ya, ini adalah perintah Allah". Disini kita akan menemukan kecerdasan dan ketaqwaan yang sangat luar biasa dari siti Hajar. "Jika demikian, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan dan menelantarkan kami". Seharusnya beginilah calon-calon ibu yang ingin melahirkan anak-anak yang solih, ia akan sangat yakin bahwa Allah akan selalu menjaga dan mencukupkan rizkinya jika ia sungguh-sungguh menjalankan perintah Allah.
Ujian untuk Ibrahim A.S pun masih belum usai, setelah ia harus meninggalkan putera dan istrinya di negeri yang tandus. Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu melalui mimpinya untuk menyembelih puteranya (Nabi Ismail A.S) yang disaat itu usia ismail masih sangat muda. 
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?’ Ia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’' (QS:37:102)
Hanya anak yang terlahir dari rahim ibu yang sangat cerdas dan solehah yang bisa menjawab seperti jawaban nabi Ismail A.S. Bagaimana bisa seorang anak remaja yang sejak kecil ditinggal oleh ayahnya di negeri yang tandus, ketika bertemu dengan ayahnya, ayahnya berkata akan menyembelihnya. Inilah pembelajaran yang sangat luar biasa, cara mendidik yang dilakukan oleh siti hajar seharusnya kita jadikan pedoman untuk mendidik putera dan puteri kita agar bisa tumbuh menjadi anak yang soleh dan solehah sehingga bisa dengan ikhlas dan patuh untuk menjalankan perintah Allah.

semoga kita bisa meneladani kisah keluarga kecil Nabi Ibrahim A.S. Semangat berqurban bukanlah semangat yang sifatnya eventual melainkan semangat yang seharusnya ada di setiap hari-hari kita. Semangat untuk mempersiapkan investasi akhirat, bukan semangat untuk menghabiskan uang di mall, di pasar, dan lain-lain. Semangat berqurban juga tidak ada batasan usia, siapa saja boleh melakukannya. Tua ataupun muda seharusnya terbiasa berqurban dengan tenaganya, rizkinya, hartanya di jalan Allah. Bukan masalah kuantitasnya, tetapi kesungguh-sungguhan untuk mengorbankannya di tengah keterbasan masing-masing.

Al-Hakim telah meriwayatkan dalam Mustadraknya (no. 2421) dari hadits Basyir bin al-Khashashiyyah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Aku pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam untu berbai'at masuk Islam. Maka beliau mensyaratkan kepadaku:

"Engkau bersaksi  tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, engkau shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, mengeluarkan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berjihad di jalan Allah."
Dia melanjutkan, "Aku berkata: 'Wahai Rasulullah, ada dua yang aku tidak mampu; Yaitu zakat karena aku tidak memiliki sesuatu kecuali sepuluh dzaud (sepuluh ekor unta) yang merupakan titipan dan kendaraan bagi keluargaku. Sedangkan jihad, orang-orang yakin bahwa yang lari (ketika perang) maka akan mendapat kemurkaan dari Allah, sedangkan aku takut jika ikut perang lalu aku takut mati dan ingin (menyelamatkan) diriku."
Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menggenggam tangannya lalu menggerak-gerakkannya. Lalu bersabda,

"Tidak shadaqah dan tidak jihad? Dengan apa engkau masuk surga?"
Basyir berkata, "Lalu aku berkata kepada Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, aku berbaiat kepadamu, maka baitlah aku atas semua itu." (Imam al-Hakim berkata: Hadits shahih. Al-Dzahabi menyepakatinya)
 
Sesungghunya jika ada kesalahan maka itu adalah kelalaian dari penulis semata, semoga Allah mengampuni kita semua.


Minggu, 21 Februari 2016

Zaid bin Tsabit

Zaid bis tsabit termasuk golongan kaum anshar (masyarakat madinah). Sewaktu Rasulullah SAW sampai ke madinah usia zaid bis tsabit masih 11 tahun. Beliau memeluk agama islam bersama-sama dengan keluarganya. Meskipun usianya masih sangat kecil, tetapi beliau merupakan sosok yang luar biasa kesolihan, kecerdasan, dan keberaniannya. Pada satu kesempatan zain bin tsabit pernah dibawa oleh ayahnya menghadap Rasulullah SAW untuk meminta izin agar diikutkan dalam perang badar, namun Rasululah SAW tidak mengizinkan karena usianya yang masih kecil. Tidak menyerah sampai disitu, ketika umat islam sedang bersiap untuk perang uhud, zaid bin tsabit bersama rekan-rekan sebayanya menghadap Rasulullah SAW sambil mengiba agar diikutsertakan dalam barisan pasukan mujahidin untuk berperang diperang uhud. Tetapi Rasulullah masih belum mengizinkan zaid bin tsabit untuk bergabung karena usianya yang belum cukup dewasa dan fisiknya yang masih kecil tetapi Rasulullah berjanji untuk mengikut sertakan zaid bin tsabit diperang umat islam yang selanjutnya. Akhirnya zaid bin tsabit mampu bergabung dengan pasukan mujahidin untuk berperang pada perang khandaq, tahun 5 H.
keimanan zaid tumbuh sangat pesat dan menakjubkan, karena zaid dianugerahkan oleh Allah otak yang sangat cerdas sehingga ia mampu menghafal al-qur’an, menjadi notulen bagi Rasulullah disaat wahyu diturunkan. Ketika rasulullah mulai berekspansi keluar kota madinah, rasulullah mengirimkan surat kepada raja-raja, dan sebelum itu Rasulullah mempercayai zaid untuk belajar bahasa para raja-raja. Dalam waktu yang singkat zaid mampu menguasi bahasa para raja seperti yang diamanahkan oleh Rasulullah SAW. Berkat kerja kerasnya, kesalihannya, kecerdasannya sehingga zaid bin tsabit pernah diamanahkan sebagai ketua dewan peradilan, ketua dewan fatwa, ketua tim pembaca al-qur’an, dan ketua tim pembagi harta warisan. Karenanya ibnu abbas begitu menghormati zaid meskipun zaid lebih muda usianya dibandingan ibnu abbas.
Al-qur’an diturunkan secara berangsur-angsur, selama kurang lebih 21 tahun. Setelah semua ayat alqur’an telah selesai diturunkan, Rasulullah membacakannya kepada kaum muslimin secara tersusun ayat demi ayat, surat demi surat. Setelah Rasulullah wafat, kaum muslimin disibukkan dengan peperangan, sehingga mengakibatkan banyaknya korban jiwa khususnya dari para penghafal al-qur’an. Oleh sebab itu, umar bin khattab berinisiatif menghadap abu bakar as-shiddiq mengusulkan agar al-qur’an dibukukan sebelum semua penghafal qur’an gugur menjadi syuhada. Setelah meminta petunjuk kepada Allah SWT dan berdiskusi dengan para sahabat khalifah Abu bakar As-shiddiq memutuskan untuk mengamanahkan zaid bin tsabit untuk menghimpun Al-qur’an dan dibantu oleh para penghafal al-qur’an lainnya.  Zaid menjalankan amanah dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab, semata-mata untuk menjaga izzah dan masa depan agama islam itu sendiri. Ia kumpulkan ayat demi ayat, surat demi surat, lembaran demi lembaran bersama para penghafal lainnya dengan sangat teliti hingga akhirnya seluruh ayat dan surat terkumpul dengan rapih. Zaid mendeskripsikan tugas yang diamanahkan kepadanya seperti berikut. “Demi Allah, seandainya mereka memintaku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, itu lebih mudah bagiku daripada menghimpun Al-Qur’an”.
Jasa zaid untuk agama ini sangatlah besar, usianya yang masih muda tidak dijadikan alas an untuk menyia-nyiakan waktu yang ia miliki. Tidak ada kecintaan yang melebihi kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Bisa kita bayangkan berapa banyak pahala yang zaid hasilkan, karena setiap huruf yang dibaca oleh umat muslim maka mengalir kebaikan kepadanya. Subhanallah, alangkah bagaianya menjadi zaid bin tsabit, kisah ini bias kita jadikan ibroh serta motivasi bagai kita semua untuk bersungguh-sungguh dalam belajar, khususnya mempelajari agama islam ini, bersemangat dalam menyambut panggilan jihad, dan mengaplikasikan amalan-amalan yang sudah zaid lakukan, agar aka nada banyak zaid zaid lainnya di seluruh penjuru dunia untuk meninggikan agama islam ini.

Wallohua’lam…

Kamis, 19 November 2015

KH. Abdul Hasib, Lc (Dekat dengan Keluarga)

Banyak yang bilang jika masa kecil adalah masa yang paling membahagiakan tetapi nampaknya pendapat seperti itu tak berlaku bagi dul, begitulah sapaan beliau di waktu beliau kecil. Karena di masa kecil yang seharusnya membahagiakan beliau harus menerima takdir yang saat itu tak berpihak padanya. Sang ayah meninggal. Ya di umur yang sangat kecil, dul menjadi anak yatim. Meskipun dul saat itu adalah anak bontot tapi bukan berarti dul menjadi raja di ‘gubuk’ rumahnya. Tetapi mungkin moment sulit itulah yang membuat dul sangat dekat dengan keluarganya.
Sejak berkeluarga, beliau mengajarkan kepada anak-anaknya untuk berbakti kepada orang tua. Hal itu beliau ajarkan bukan dengan kata-kata kosong belaka yang berlalu beriringan dengan hembusan angina saja, melainkan melalui action beliau yang setiap pekannya mengajak keluargnya untuk mengunjung rumah ibundanya, Hj. Salbiah. Tak lupa sesekali beliau juga mengajak keluarganya untuk mengunjungi rumah mertuanya walau hanya sekedar menengok, menanyakan kabar, atau mungkin hanya sekedar mendengarkan cerita dari sang mertua. Pernah saya menyaksikan sendiri betapa sayangnya dul terhadap ibundanya, kejadian ini kira-kira sudah cukup lama kurang lebih pada tahun 2011. Ketika itu ibunda sedang sakit, hanya mampu berbaring lemas di atas tempat tidur. Saat itu dul berkunjung untuk menjenguk dan mendoakan kesembuhan ibunda, sesampai dul di rumah ibunda beliau bergegas masuk ke kamar ibunda dan ikut berbaring di samping ibuda beliau. Beliau menghibur, memberikan perhatian, memanjakan ibunda beliau dengan penuh kasih sayang layaknya seorang bapak yang sedang memanjakan putrinya yang sedang sakit. Kedekatan mereka begitu hangat, dan sesekali dul memanjatkan doa untuk kesembuhan ibunda yang begitu beliau cintai. Dul memang sangat dekat dengan ibundanya, tak berkurang sedikitpun kasih sayang dan rasa bakti beliau terhadap ibundanya meskipun dul sempat melanjutkan studinya di arab Saudi. Begitu pula ibundanya, sang ibu sangat bangga terhadap beliau. Setiap cucunya berkunjung ke rumahnya untuk sekedar melepas kerinduan karena hamper semua cucunya menjadi santri atau pun perantau sehingga sangat jarang bertemu dengan beliau, ia selalu menceritakan masa kecil dul yang memprihatinkan tetapi ia bisa survive hingga bisa menyelesaikan studinya di UI dengan gelar sarjana muda dan melanjutkan studinya di arab Saudi, selain itu juga sejak Madrasah Tsanawiyah dul juga selalu menjadi yang terbaik di bidang akademik. Hingga belakangan ini beliau disibukkan dengan kehadiran cucunya yang begitu beliau cintai, dan menjadi tempat beliau melepas kepenatan setelah seharian sibuk dengan aktivitas yayasan yang luar biasa padat. meskipun lelah dengan aktivitas yang luar biasa padat setiap harinya tetapi beliau tidak pernah absen untuk bercengkrama dengan sang cucu, hingga jika sehari saja cucunya tak hadir di rumah pasti beliau menanyakan kehadiran sang cucu. Terkadang beliau mengajak sang cucu bermain bola meskipun cucunya seorang putri, atau mengajari cucunya mengaji, atau hanya sekedar bercengkrama biasa tetapi memang seperti itulah beliau, dekat dan hangat dengan keluarganya meskipun aktivitas beliau sangat padat, meskipun waktu yang beliau memiliki habis untuk membina umat tetapi beliau tak pernah absen untuk duduk bersama keluarganya meskipun hanya sekedar sarapan bersama atau menikmati siaran berita di tv bersama-sama keluarga.
Ada yang bilang air mata adalah salah satu tanda ketulusan. Teramat jarang saya menyaksikan air mata beliau menetes dari pelupuk mata beliau yang penuh harapan. Seingat saya hanya dua kali saya menyaksikan beliau meneteskan air mata. Yang pertama, ketika beliau menikahkan putri pertamanya. Putri yang begitu beliau cintai dan begitu beliau banggakan, dengan segudang pencapaian luar biasa yang tak lepas dari arhan serta bimbingan beliau. Yang kedua ketika beliau harus menyaksikan sang ibunda tertidur lemas di atas tempat tidur dan tebata-bata dalam doa seakan sang ibunda sudah sangat lemah tak berdaya menahan sakit. Terdengar suara lirih namun tebata dari mulut sang ibunda seutas doa, “Allahumma anta robbi laa ilaha illa anta, kholaqtani wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u bi dzanbi, faghfirliy fainnahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta”
 [Ya Allah! Engkau adalah Rabbku, tidak ada Rabb yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau] menyaksikan kejadian seperti itu beliau menetaskan air mata dan hanyut dalam keheningan. Entah hal apa yang ada di dalam benak beliau, tetapi saya sangta yakin beliau tak mampu berkata-kata karena beliau begitu mencintai ibundanya.

Sosok beliau yang hangat dengan keluarga tidak bisa digantikan, tebak-tebakan jenaka beliau taka da yang bisa mengalahkan, sosok tegas dan disiplin beliau selalu berkesan, harapan-harapan beliau selalu menjadi cita-cita kami untuk mewujudkannya menjadi sebuah kenyataan. Keheningan malam dalam sujud beliau selalu mengingatkan kami, sedekat apapun kita dengan manusia tetap harus lebih dekat dengan Allah SWT.