Pagi ini biasanya aku masih terbaring di ranjang setelah selesai melaksanakan solat subuh, tetapi karena ada suatu hal yang menyebabkan ibunda tidak sempat masak untuk sarapan pagi kami. Terpaksalah aku berangkat memburu nasi uduk untuk mengisi menu sarapan pagi. Warung masih sepi, aku pelanggan kedua yang memesan nasi uduk dengan lauk 'bala-bala' sebagai pelengkap. Tidak ada yang istimewa, warung sederhana yang sempit hanya ada beberapa bangku plastik yang menjadi penghias warung itu. Hingga datang pelanggan lainnya, suami istri. Tidak ada yang istimewa dengan pasangan ini, tetapi perhatian saya tiba-tiba teralihkan ke sang istri yang memesa nasi uduk dengan tupperware ungunya yang sudah siap untuk diisi. Sang istri hanya menunjuk-nunjuk serta mengangguk-ngangguk untuk memilih menu nasi uduk yang akan mengisi tupperware ungunya. Saya masih sedikit heran, kenapa sang istri tidak langsung memesan dengan berbicara langsung saja ke penjual toh itu jauh lebih mudah dimengerti. Hingga akhirnya aku menyadari, ternyata sang istri bisu setelah suaminya mengajak diskusi dengan menggunakan bahasa isyarat. Saya kagert, kaget karena sang suami yang secara fisik normal, gagah, lumayan tampan tapi bersedia menerima wanita yang bisu untuk menjadi pendamping hidupnya. Detik itu juga hatiku ngilu, mencoba mengambil hikmah dari peristiwa yang baru saja aku saksikan. Aku mencoba mencari arti kata cinta, karena hari ini kata cinta diobral begitu murah sehingga tak heran begitu banyak wanita yang air matanya kering sia-sia karena ditipu dengan iming-iming cinta. Meskipun aku belum merasakannya karena belum menikah, tapi aku mencoba mengambil hikmah dan menginterpretasikan makna cinta dari sudut pandang pribadi. Cinta bukanlah usaha mendominasi karena kelebihan yang dimiliki, tetapi cinta adalah usaha untuk menerima kekurangan memberi dengan kelebihan dan bertahan dengan keikhlasan. Jika kita hanya memaksakan kelebihan kita untuk dimiliki oleh pasangan kita kelak, rasanya akan jauh lebih sulit dibandingkan dengan menerima kekurangan pasangan kita dan menyempurnakannya dengan kelebihan yang kita miliki. Saya ingin menutup tulisan ini dengan hikmah
Cinta janganlah kau jual dengan harga murah
Cinta bukan baju lebarang yang bisa diobral
Cinta adalah suci
Cinta sesama mendekati sempurna
Jika belum ikhlas maka belum cinta
Jika belum menerima maka belum cinta
Jika belum memberi maka belum cinta
Janganlah mencintai jika belum siap menikahi :D
Selasa, 18 Oktober 2016
Rabu, 28 September 2016
apakah kelulusan ini akan membuat aku menjadi beban negara atau menjadi kontributor untuk kemajuan negara?
Rasanya baru kemarin aku sampai
di kota pahlawan ini, hadir di antara ribuan calon mahasiswa baru di gedung
BAAK samping gedung Rektorat milik kampus berperingkat empat nasional.
Didampingi Ibu dan Ayahanda tercinta, melepas putranya yang akan menjalankan
studi sarjananya di kota yang jaraknya 825km dari rumah. Anak yang sejak TK
sampai SMA selalu berada di dekat rumah, yang hanya bertahan satu minggu ketika
dititipkan di pondok yang ada di Sukabumi. Tetapi apadaya, besi sudah terlanjur
menjadi baja dan tidak mungkin akan kembali menjadi Bijih besi kembali. Studi
di kota pahlawan merupakan pilihan pribadi, yang sudah aku ikrarkan sejak duduk
di bangku kelas 2 SMA, dan Alhamdulillah Allah memberikan jalan dan kemudahan
dengan segala Kuasa-Nya. Niat sudah terlanjur bulat, tekad sudah terperosok
dalam di dalam hati, hati pun sudah ikhlas untuk pertama kalinya berusaha
survive tanpa keluarga. Masih teringat betul jika kedua orang tua hanya
menemaniku selama satu hari dan esoknya pun kembali pulang meninggalkan di
sudut kamar sempit hanya beralas karpet karet dan kasur lampung yang akan
membuat rusukkuu sakit ketika berjuang melawan dinginnya malam.
Time flies so fast, begitu kalau
kata anak zaman sekarang. Waktu memang bergulir begitu cepat, disinilah awal
mula diriku ditempa, didera, disiksa, dan dipaksa tentunya untuk menjadi pemuda
yang dewasa, mandiri, matang, dan berpengalaman. Masa-masa awal perkuliahan
terasa begitu lama dan sulit, adaptasi dari metode belajar ketika SMA dan
kuliah membutuhkan waktu karena keduanya sangat berbeda. Belum lagi kegiatan
mahasiswa baru yang sangat padat, layaknya anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang
setiap harinya rapat, kami pun sebagai mahasiswa baru begitu. Hampir setiap
sore hingga larut malam kami rapat, dimana agenda rapat kadang terasa tidak
penting tapi sungguh rapat itu membuat kami mahasiswa baru menjadi saling kenal
satu sama lain, sehingga kami sampai hapal nama lengkap, nomer induk mahasiswa,
dan asal daerah. Bahkan terkadang, hari libur kamipun dirampas untuk
kegiatan-kegiatan mahasiswa baru yang sangat padat. Every day is Monday,
begitulah kira2 gambaran aktivitas kami ketika tingkat satu masa studi.
Begitu banyak kenangan,
pengalaman, dan pembelajaran yang aku lalui selama masa studi, tanpa terasa
empat tahun sudah aku menjalani masa studi di kampus tercinta dengan begitu
banyak cerita pahit dan manis yang menjadi penyedap di sela-selanya. Hari ini,
resmi sudah aku menyandang gelar ST (Sarjana Teknik), meskipun tidak
mendapatkan IPK yang sempurna tetapi hari ini aku sangat bahagia, bukan bahagia
karena sudah menyelesaikan masa studi melainkan hari ini aku diantar kembali
oleh kedua orang tuaku tetapi kali ini bukan untuk mendaftar ulang sebagai
mahasiswa baru melainkan untuk pamit di hadapan rektor dan para guru besar.
Pamit untuk mengucapkan terimakasih yang sangat dalam karena baktinya untuk
ikhlas mendidik dan mendewasakan pola fikirku. Wisuda bukan menjadi akhir tetapi
yang aku rasakan wisuda merupakan babak baru dari kehidupan yang sebenarnya
dimana ketika di kampus aku hanya bersaing dengan 100-1000 orang tetapi di
dunia karier aku harus bersaing dengan ribuan bahkan jutaan orang yang
membutuhkan pekerjaan yang di negeri ini sangat sulit didapatkan. Hari ini akan
timbul pertanyaan, apakah kelulusan ini akan membuat aku menjadi beban negara
atau menjadi kontributor untuk kemajuan negara? Welcome to the real life!
Selasa, 13 September 2016
Meneladani Keluarga Nabi Ibrahim A.S
Tulisan di bawah ini merupakan ringkasan dari khotbah shalat Idul Adha KH. Abdul Hasib Hasan, Lc di Pesantren Terpadu Darul Qur'an Mulia (DQM) 1437H.
Di zaman yang saat ini sedang mengalami krisis multidimensi, ketika degradasi moral terjadi di semua kalangan. Ayah yang lupa dengan peran dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin rumah tangga, Ibu yang hanya sibuk menghabiskan uang ke pasar untuk berbelanja, dan anak remaja yang sibuk dengan permainan yang melalaikan tanggung jawabnya maka kita membutuhkan tiga sosok manusia yang mewakili semua pemeran dalam suatu keluarga, yaitu sosok Nabi Ibrahim A.S, Siti Hajar, dan Ismail A.S.
Mengapa Nabi Ibrahim A.S?karena Nabi Ibrahim merupakan kekasih Allah yang diberi gelar sebagai pemimpin umat manusia karena ketaatan dan kesungguhannya dalam menyelesaikan perintah Allah SWT dengan sempurna.
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim AS diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim".(QS:2:124). Ada beberapa poin yang bisa kita jadikan ibroh dari sifat dan karakter dari Nabi Ibrahim A.S, diantaranya adalah:
- Hanif
Nabi Ibrahim A.S adalah seorang hamba yang hanif, hanif disini bermakna berkomitmen untuk membela dan memperjuangkan kebenaran sehingga kita tidak akan memposisikan diri kita untuk membenarkan apalagi memperjuangkan kezaliman. hal ini dibuktikan ketika beliau memiliki keberanian di usia yang masih muda untuk menumpas segala bentuk kemusyrikan yang terjadi, dengan menghancurkan berhala-berhala yang dijadikan sesembahan meskipun beliau mengetahui resiko dan konsekuensinya, tetapi komitmen Nabi IbrahimA.S sudah jelas untuk membela dan memperjuangkan kebenaran.
- Syukur
Bersyukur terhadap apa yang Allah berikan kepada kita akan membuat hati kita menjadi lapang, tidak ambisius sehingga kita tidak berambisi untuk menjadikan dunia sebagai orientasi hidup kita.
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema’lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS:14:7). Sesungghunya yang membuat hidup kita terasa sempit bukan nominal gaji yang kita peroleh, tetapi rasa syukur yang tidak pernah bertambah setiap harinya atas nikmat yang telah Allah karuniakan.
- Yakin
Di usia yang sudah tua, Nabi Ibrahim A.S tidak pernah berhenti dan putus asa untuk berdoa kepada Allah agar diberikan keturunan meskipun secara biologis sudah tidak mungkin tetapi Nabi Ibrahim A.S tetap yakin dan terus berdoa setiap harinya agar dikaruniakan keturunan yang soleh. Dan pada akhirnya Allah memberikan keturunan yang soleh kepadanya.
Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (QS:37:100-101)
Manusia itu penuh dengan keterbatasan, Allah lah yang akan memudahkan dan memberikan jalan maka berdoalah, berdoalah, dan terus berdoalah kepadaNya.
- Bersegera terhadap Perintah Allah
Nabi Ibrahim A.S selalu bersegera terhadap perintah Allah, yaitu ketika Nabi Ibrahim diperintahkan untuk membawa anaknya yang sangat ia cintai (Ismail A.S) menuju ke makkah bersama dengan ibunya (Siti Hajar). Kala itu makkah adalah negeri yang sangat tandus, sehingga sangat sulit untuk bertahan hidup di sana ditambah perbekalan yang dibawa hanyalah sedikit. Tetapi karena ini adalah perintah Allah, meskipun ia sangat mencintai anak dan istrinya tetapi karena ini adalah perintah Allah maka ia harus tetap menjalankannya.
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS:14:37)
ketika keluarga kecil Nabi ibrahim tiba di makkah, terjadi dialog yang sangat istimewa yang bisa dijadikan prinsip hidup bagi kaum wanita khususnya. ketika Nabi Ibrahim sudah melangkahkan kakinya meninggalkan istri dan anak yang sangat ia cintai, siti hajar bertanya kepadanya. "Apakah yang kamu lakukan ini adalah perintah Allah?". Sebagai wanita sangatlah wajar merasa keberatan jika ditinggal suaminya di tengah negeri yang tandus, tanpa adanya perbekalan yang cukup. Nabi ibrahim pun menjawab tanpa menoleh ke istrinya "ya, ini adalah perintah Allah". Disini kita akan menemukan kecerdasan dan ketaqwaan yang sangat luar biasa dari siti Hajar. "Jika demikian, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan dan menelantarkan kami". Seharusnya beginilah calon-calon ibu yang ingin melahirkan anak-anak yang solih, ia akan sangat yakin bahwa Allah akan selalu menjaga dan mencukupkan rizkinya jika ia sungguh-sungguh menjalankan perintah Allah.
Ujian untuk Ibrahim A.S pun masih belum usai, setelah ia harus meninggalkan putera dan istrinya di negeri yang tandus. Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu melalui mimpinya untuk menyembelih puteranya (Nabi Ismail A.S) yang disaat itu usia ismail masih sangat muda.
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?’ Ia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’' (QS:37:102)
Hanya anak yang terlahir dari rahim ibu yang sangat cerdas dan solehah yang bisa menjawab seperti jawaban nabi Ismail A.S. Bagaimana bisa seorang anak remaja yang sejak kecil ditinggal oleh ayahnya di negeri yang tandus, ketika bertemu dengan ayahnya, ayahnya berkata akan menyembelihnya. Inilah pembelajaran yang sangat luar biasa, cara mendidik yang dilakukan oleh siti hajar seharusnya kita jadikan pedoman untuk mendidik putera dan puteri kita agar bisa tumbuh menjadi anak yang soleh dan solehah sehingga bisa dengan ikhlas dan patuh untuk menjalankan perintah Allah.
semoga kita bisa meneladani kisah keluarga kecil Nabi Ibrahim A.S. Semangat berqurban bukanlah semangat yang sifatnya eventual melainkan semangat yang seharusnya ada di setiap hari-hari kita. Semangat untuk mempersiapkan investasi akhirat, bukan semangat untuk menghabiskan uang di mall, di pasar, dan lain-lain. Semangat berqurban juga tidak ada batasan usia, siapa saja boleh melakukannya. Tua ataupun muda seharusnya terbiasa berqurban dengan tenaganya, rizkinya, hartanya di jalan Allah. Bukan masalah kuantitasnya, tetapi kesungguh-sungguhan untuk mengorbankannya di tengah keterbasan masing-masing.
Al-Hakim telah meriwayatkan dalam Mustadraknya (no. 2421) dari hadits Basyir bin al-Khashashiyyah Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Aku pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam untu berbai'at masuk Islam. Maka beliau mensyaratkan kepadaku:
"Engkau bersaksi tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, engkau shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, mengeluarkan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berjihad di jalan Allah."
Dia melanjutkan, "Aku berkata: 'Wahai Rasulullah, ada dua yang aku tidak mampu; Yaitu zakat karena aku tidak memiliki sesuatu kecuali sepuluh dzaud (sepuluh ekor unta) yang merupakan titipan dan kendaraan bagi keluargaku. Sedangkan jihad, orang-orang yakin bahwa yang lari (ketika perang) maka akan mendapat kemurkaan dari Allah, sedangkan aku takut jika ikut perang lalu aku takut mati dan ingin (menyelamatkan) diriku."
Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menggenggam tangannya lalu menggerak-gerakkannya. Lalu bersabda,
"Tidak shadaqah dan tidak jihad? Dengan apa engkau masuk surga?"
Basyir berkata, "Lalu aku berkata kepada Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, aku berbaiat kepadamu, maka baitlah aku atas semua itu." (Imam al-Hakim berkata: Hadits shahih. Al-Dzahabi menyepakatinya)
Sesungghunya jika ada kesalahan maka itu adalah kelalaian dari penulis semata, semoga Allah mengampuni kita semua.
Senin, 25 Juli 2016
Sahabat Sampai Syurga
sebagai makhluk sosial sudah tentu manusia membutuhkan kehadiran orang lain untuk menemaninya, begitu pula yang Nabi Muhammad SAW contohkan kepada kita. Beliau memilih Abu Bakar As-Shidiq sebagai sahabat sejatinya. Dua insan manusia ini seharusnya kita jadikan contoh dalam kehidupan sehari-hari kita, dalam memilih teman sejati, dalam bergaul, karena dua insan manusia terbaik ini berteman bukan sembarang berteman melainkan bersahabat sampai syurga. seperti apa sih sahabat sampai syurga?
sahabat sampai syurga adalah
jika engkau bersamanya, maka engkau merasa semakin dekat dengan Allah
jika engkau melangkah bersamanya, maka langkahmu ringat untuk melangkah ke rumah-rumah Allah
jika engkau berbicara dengannya, maka lisanmu terasa ringan untuk bertasbih, bertahmid, dan bertakbir
jika engkau bepergian bersamanya, maka imanmu seperti batre yang tercharger senantiasa bertambah
berteman bukan sembarang berteman karena Rasulullah SAW sudah memberikan petunjuk melalui sabdanya.
“Seorang mukmin merupakan cerminan saudaranya yang mukmin.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, no. 239; Abu Dawud, no.4918 [Ash-Shahihah, no. 926])
jika teman atau sahabat kita orang yang solih, inshaAllah kita juga akan termotivasi untuk menjadi orang yang solih pula. Jika teman atau sahabat kita orang yang rajin, inshaAllah kitapun akan ketularan rajin. Jika teman kita orang yang berwawasan luas, inshaAllah bersamanya wawasan kita akan terus bertambah.
Karena hakikatnya manusia akan terwarnai, dengan siapa ia menghabiskan hari-harinya maka akan seperti itulah sifat dan karakternya. Ada juga loh sumbernya:
“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang
penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi
mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak
wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum
darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai
pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang
tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
kebayang dong perumpamaan yang Rasulullah SAW sampaikan, pada dasarnya bukan berarti kita gak mau bergaul dengan semua orang tetapi tepatnya kita harus MEMILIH ya benar memilih, karena teman bisa mempengaruhi sifat dan karakter kita, masa depan kita, akhlak kita, cara berfikir kita, dan masih banyak lagi. Pasti kita semua berfikir, seharusnya kita bisa dong mengajak teman kita yang belum baik untuk 'hijrah' jadi lebih baik?ya tentu bisa dong, tapi sebelum itu sudahkan diri kita menjadi baik?dan sanggupkah kita bertahan dengan komitmen kita seorang diri?seandainya kita sudah berusaha menjadi lebih baik dan mencari teman yang baik pula untuk menjaga, mengingatkan, dan mendoakan kita otomatis usaha kita untuk mengajak teman-teman yang lain menjadi lebih baik lagi jauh lebih mudahkan?
guys, kita gak perlu takut atau khawatir dibilang gak gaul, gak asik, gak kekinian, cuma karena cara berpenampilan kita, berbicara kita, bergaul kita, dan lain sebagainya. kita gak perlu sibuk mikirin apa kata orang lain, lebih baik kita sibuk mikirin bagaimana nanti kita menghadap Allah SWT?bagaimana kita membahagiakan kedua orang tua?dan yang jelas bagaimana kita bangga menjadi seorang MUSLIM?ya saya bangga menjadi seorang MUSLIM!
Rabu, 06 April 2016
Sungguh Aku Rindu
Jadwal kuliah yang melelahkan ditambah dengan jadwal syuro (rapat) yang tidak sekali dua kali cukup menyita banyak tenaga dan merenggut waktu luang muda-mudi seperti kami. Sekumpulan mahasiswa semester pertengahan yang berangkat dari latar belakang berbeda, asal yang berbeda, dimana sebelumnya kami tidak pernah mengenal satu sama lain. Aktifitas itulah yang melengkapi kehidupan kampus kami di waktu terang. Kedekatan kami bermula karena kebetulan kami semua berada di jurusan yang sama di universitas yang sama dan pada angkatan yang sama. Hebatnya lagi kami dikumpulkan di kelompok yang sama, kelompok dimana kami mulai merangkai mimpi dan cita-cita, kelompok dimana kami sering sekali dimotivasi, diceramahi, atau bahkan sekedar diajari cara mengaji. Kelompok itu adalah kelompok mentoring untuk mahasiswa baru sebagai sarana untuk mentarbiyyah kami semua agar menjadi insan yang lebih baik lagi sehingga menjadi generasi rabbani bukanlah hal yang mustahil. Alhamdulillah kegiatan tarbiyyah kami dengan sarana mentoring ini terus berlanjut hingga sekarang (semester akhir), meskipun murobbi (mentor) kami kerap berganti mulai dari kaka tingkat yang harus digantikan karena beliau harus melanjutkan studi ke luar negeri, dosen walau kadang ditransfer ke dosen lain karena kesibukan dosen yang luar biasa sibuk. Tempat kami pun silih berganti, masjid, rumah makan, rumah dosen, bahkan sampai harus ke luar kota. Banyak sekali kisah yang terjadi selama kami mengistiqomahkan kegiatan tarbiyyah kami, kisah bahagia, kisah haru, kisah heroik, atau bahkan kisah romatis yang dibingkai dalam ikatan ukhuwah islamiyah yang menancap di dalam sanubari hati kami. Mungkin curahan hati saya di bawah ini akan menggambarkan suasana kegiatan tarbiyyah kami.
Aku rindu.
Aku rindu ketika kita menunggu sms atau kabar berita, berita majelis "ta'lim kita"
Aku rindu
Aku rindu ketika kita menembus gelap malam menuju rumah murobbi kita
meskipun lelah, meskipun hujan, meskipun ngantuk atau bahkan meskipun perut meronta akibat kelaparan
Aku rindu
Aku rindu ketika sahabat dan murobbiku mengoreksi tilawahku
Aku rindu
Aku rindu ketika sahabatku mendengarkan setoran hafalan qur'anku
Aku rindu
Aku rindu ketika taujih murobbiku menyentuh qalbuku, mengingatkan kehinaan ku atas dosa-dosa ku
Aku rindu
Aku rindu ketika sahabat ku membangunkanku ketika aku sangat ngantuk dalam lingkaran halaqohku
Aku rindu
Aku rindu ketika doa robitoh membuat kita merasa sangat dekat
Aku rindu
Aku rindu ketika kita bisa berkumpul dalam lingkaran kecil yang mengingatkan kita akan indahnya syurga dan betapa mengerikannya neraka
Sesungguhnya tidak ada kerinduan yang lebih indah selain kerinduan yang dilandasi dengan keimanan
Sesungguhnya tidak ada ikatan persaudaraan yang lebih erat tanpa dilandasi dengan cinta dan taqwa
Sesungguhnya tidak ada persahabatan yang lebih abadi tanpa ada seruan kebaikan di dalamnya
Sesungguhnya hanya do'a yang dapat menembus dimensi dan ruang yang berbeda.
Kamis, 31 Maret 2016
Go Hijrah!
Bismillahirrohmanirrohim..
'hijrah' menurut saya pribadi adalah suatu proses yang sangat panjang untuk memperbaiki diri semata-mata hanya unutk mendapatkan cinta dan ridha-Nya. proses yang menurut saya sangat sulit dilakukan oleh muda-mudi khususnya, bukan hanya sulit untuk memulainya tetapi unutk tetap bertahan on the track. bayangkan saja, begitu gemerlapnya kehidupan masa muda, banyak godaan, banyak kemudahan, banyak yang membuat nymana tetapi semua itu juga berujung pada banyaknya efek dosa yang bisa kita dapatkan, tetapi tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak, dan hidayah itu datangnya ga bisa diduga, ga ngasih notification apapun tetapi atas izin Allah hidayah akan mengetuk pintu hati hambaNya melalui perantara yang tidak diduga-duga.
Pada dasarnya setiap muslim memiliki kecenderungan untuk berhijrah, karena suatu perbuatan dosa pasti akan menimbulkan gejolak internal di dalam hati kita, hanya saja memang kebanyakan perbuatan dosa itu memudahkan dan membuat kita nyaman. kebayang dong gimana sulitnya menjadi seorang hamba yang 'lurus' di zaman sekarang?gak heran jika Allah memberikan balasan yang begitu besar untuk hamba-hambanya yang bertakwa alias yang hidupnya "lurus".
Langsung aja nih, kita akan coba belajar tips and tricks berdasarkan pengalaman pribadi, meskipun saya sendiri masih sangat sedikit ilmunya dan masih belajar tetapi ga ada salahnya dong kalau kita mau sharing-sharing pengalaman?Tips hijrah yang pertama buat kita semua anak muda yang masih mencari jati diri, atau masih labil, atau masih belum menjadi muslim yang baik plus progresif plus produktif dan lain sebagainya adalah niatkan dalam diri kita untuk berusaha menjadi seorang hamba Allah yang lebih baik dan lebih soleh lagi. sama-sama kita tau, kekuatan niat itu luar biasa dan niat merupakan langkah yang paling utama bagi kita untuk melakukan apapun dan di dalam niatlah terdapat kekuatan yang sangat besar. Nah niat juga jangan sembaran niat, artinya niatkan "hijrah" mita semata-meata untuk mendapatkan cinta dan ridha Allah SWT semata, bukan untuk seseorang yang kita kagumi, bukan untuk mendapatkan warisan orang tua, atau bahkan bukan untuk dapat perhatian calon mertua. Niatkanlah diri kita untuk "berhijrah" karena Allah dan untuk Allah. Setelah niat sudah benar, hal yang selanjutnya adalah memohon ampun atas segala kesalahan dan kekhilafan kita selama ini atau lebih simplenya lagi adalah bertaubat. Ini adalah saat yang paling asik dan sulit. kenapa?menjadi sangat asik karena kita bisa menyesali kesalahan dan kekhilafan kita, dan itu adalah nikmat yang sangat luar biasa. Bayangkan berapa banyak orang-orang yang masih terlena dengan perbuatan-perbuatan dosa mereka? dan mengapa menjadi yang paling sulit?karena kita harus komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan dan kekhilafan kita lagi, bukankah hal itu sangat sulit?tapi tenang jika kita sudah niat dan senantiasa memohon pertolongan dari Allah serta melakukan beberapa tips di selanjutnya inshaAllah kita bisa (atas izin Allah). Oke tips and tricks yang ke-tiga adalah menambah wawasan keislaman secara kontinyu. Zaman sekarang, belajar itu sangat mudah,banyak sekali medianya. Bisa lewat buku, hadir di kajian-kajian, bisa dari youtube, dan lain-lain. sempatkanlah membaca buku setiap harinya walaupun hanya sebentar, hadir di majelis-majelis ilmu walaupun tidak sering, streaming kajian di youtube kan juga sekarang gampang banget guys. Karena dengan menambah wawasan keislaman kita akan semakin semangat untuk "berhijrah" karena kita akan lebih banyak tau lagi keutamaan "berhijrah". Kita juga akan semakin paham apa saja yang dilarang dan apa saja yang diperbolehkan, dan lain sebagainya. tips selanjutnya adalah menyibukkan diri dengan hal-hal yang positif. Ini sangat penting, sebisa mungkin manfaatkan waktu luang kita untuk melakukan sesuatu yang produktif dan positif karena kalau kita nganggur godaan syaitan dalam bentuk apapun itu sangat sulit dibendung. Bukan menjadi sok sibuk, tetapi mencoba memanfaatkan waktu yang ada untuk kegiatan-kegiatan positif dan produktif. Dan yang terakhir adalah berkumpul lah dengan orang-orang yang saleh. Zaman sekarang, komunikasi gak harus ketemu. Kita bisa berkumpul dengan orang-orang lewat group fb, line, whatsapp, bbm dan lain-lain. Tujuan dari berkumpul dengan orang-orang saleh adalah agar kita bisa saling mengingatkan satu sama lain dalam hal kebaikan selain itu juga bisa menjadi motivasi bagi kita untuk terus memperbaiki diri menjadi muslim yang lebih baik lagi.
Masa muda memang masa yang sangat menggiurkan, masa untuk bersenang-senang, tertawa dengan teman sebaya, menikmati perkembangan zaman, tetapi ingatlah pemuda yang sudah mengukir sejarah tidak menghabiskan masa mudanya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Ir. Soekarno di masa mudanya sudah menemani mentornya hoes cokroaminoto untuk keliling Indonesia membangun gerakan-gerakan pejuang kemerdekaan. Muhammad Al-fatih di masa mudanya dihabiskan untuk berlatih perang, menuntut ilmu, memimpin gerakan solat berjamaah dan membangun peradaban islam. Ali bin Abi Thalib r.a di masa mudanya sudah menjadi rujukan para sahabat karena wawasan keilmuannya yang luar biasa luasnya. Sesungguhnya hidup memang sebuah pilihan, tapi ingatlah bahagia di dunia dan akhirat juga merupakan sebuah pilihan. sekarang, buatlah pilihan yang tepat sesegera mungkin, karena usia kita tidak ada yang bisa menjamin guys!
Senin, 14 Maret 2016
Introduction of Welding (Pengelasan)
Pengelasan adalah proses penyambungan dua logam dengan memanfaatkan panas baik temperatur pemanasan di atas titik lebur logam atau di bawah titik lebur logam, baik menggunakan tekanan atau tidak menggunakan tekanan, baik menggunakan filler (elektroda) atau tidak menggunakan elektroda. untuk temperatur pengelasan jika objek las yang digunakan adalah pure metal atau logam murni maka temperatur pemanasan di atas temperatur lebur logam tersebut, tetapi jika logam objek las yang digunakan berupa alloy atau paduan maka temperatur yang digunakan di bawah titik lebur logam alloy tersebut.
seperti diagram equilibrium milik baja di atas, jika berupa paduan maka temperatur yang digunakan berada pada FZ(Fusion Zone). berada di atas temperatur 910 derajat celcius. artinya temperatur masih berada di bawah garis liquidus.
sedangkan jika logam las yang digunakan berupa pure metal, seperti diagram di atas berupa 100% logam besi (Fe) maka temperatur las yang digunakan berada di atas titik lebur dari logam tersebut. jika besi memiliki titik lebur 1535 derajat celcius maka temperatur pengelasan harus berada di atas temperatur lebur besi.
sedangkan pengaruh proses las terhadap sisi metalurgi pada logam las dapat diuraikan menjadi tiga kategori, yaitu fusion zone (FS), HAZ (Heat affected zone), dan base metal. ketiga kategori ini memiliki kriteria yang berbeda-beda berdasarkan struktur, temperatur yang diterima, dan sifat mekanik. Fusion zone sendiri adalah daerah dimana terjadinya proses las, artinya fusion zone merupakan daerah logam yang menerima temperatur yang paling tinggi sehingga filler mengisi rongga logam yang ingin dilas. karena daerah ini berisikan filler atau elektroda maka daerah ini memiliki sifat mekanik yang berbeda dengan logam las aslinya oleh karena itu seorang welder harus menentukan filler yang tepat agar didapatkan sifat meknaikn yang tida jauh berbeda atau memiliki kemiripan. daerah selanjutnya adalah HAZ atau heat affected zone artinya zona adalah zona yang mendapatkan pengaruh akibat panas yang diberikan pada welding zone (fusion zone). daerah ini bisa memiliki kecenderungan memiliki sifat dan struktur yang berbeda dengan base metal untuk mengatasinya perlu dilakukan pro heat dan post heat untuk mendapatkan sifat dan struktur yang tidak berbeda dengan base metal. daerah selanjutnya adalah base metal artinya daerha ini tidak mendapatkan pengaruh apapun akibat proses las sehingga tidak terjadi perubahan baik dari struktur mikro ataupun sifat mekaniknya.
ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam proses pengelasan:
- weld ability (mampu las)
- welder skill
- kapasitas mesin las
- K3 dari proses las itu sendiri
contohnya E 7016
2 digit pertama (70) memiliki arti kekuatan uji tarik dari jenis filler atau elektroda tersebut sebesar 70 Mpa
digit ke-3 (1) memiliki arti posisi las artinya pengelasan all position
digit ke 4 (6) kuantitas hydrogen, kode 1,6, dan 8 artinya kandungan hidrogen rendah. jumlah hidrogen yang terlalu banyak tidak diinginkan karena menyebabkan cacat jenis cold crack.
Langganan:
Postingan (Atom)
